Breaking News

Kitab “Badzl al-Nashîhah” dan Cerita Pertaubatan Tujuh Orang “Kaum Muda Minangkabau” di Hadapan Syaikh Mukhtar Bogor dan Ulama-Ulama Makkah Lainnya (Tahun 1341 H/ 1923 M)

Ahmad Ginanjar Sya'ban, santri kelahiran Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Banyak mengurai naskah dan kitab lama karya ulama Nusantara.

Berikut ini adalah kutipan dari risalah berjudul “Badzl al-Nashîhah li Man Syadzdza ‘an Aqwâl al-Madzâhib al-Shahîhah” (بذل النصيحة لمن شذّ عن أقوال المذاهب الصحيحة) yang berarti “Penyampaian Nasehat untuk Orang yang Menyimpang dari Pakem Madzhab Empat yang Lempang”. Kitab ini termaktub pada tahun 1341 Hijri (1923 Masehi).
Kutipan Kitab Badzl al-Nashîhah. {facebook/aginanjarsyaba]
Isi dari kitab ini sangat menarik. Ia menceritakan tentang fenomena berkembangnya faham Islam bercorak puritan di kalangan masyarakat Jawi (Nusantara) di Makkah pada awal abad ke-20, yang mana pelopornya adalah segelintir orang yang berasal dari Minangkabau (Sumatera Barat).
Di Ranah Minang sendiri, kelompok yang mengusung faham Islam puritan ini dikenal dengan sebutan “Kaum Muda”, sebagai antitesa dari kelompok “Kaum Tua” yang befaham tradisional. Di Nusantara secara umum, kaum puritan ini dikenal juga dengan beberapa sebutan lainnya, seperti kaum “Modernis”, “Anti-Madzhab”, “Salafi”, atau juga “Wahabi”.
Meski tidak secara keseluruhan, namun beberapa pokok ideologi pemikiran kaum puritan di Nusantara ini memang terafiliasi dengan sekte Wahabi yang dipelopori oleh Muhammad b. ‘Abd al-Wahhâb (w. 1792). Wahabi muncul dan berkembang di Arabia pada abad ke-18 M dengan pusat pergerakannya di kota Nejd (kini Riyadh, ibu kota Saudi Arabia).
Apa yang dilakukan oleh orang-orang puritan Minangkabau di Makkah itu membuat gaduh suasana masyarakat Jawi di kota suci. Pasalnya, mereka menantang para ulama senior Makkah dengan mengemukakan beberapa pendapat baru dalam hukum Islam (fikih) yang bertentangan dengan konsesus pandangan jumhur ulama. Mereka juga membid’ah-bid’ahkan beberapa amaliah (praktik keagamaan) yang dilakukan oleh mayoritas Muslim di Nusantara pada saat itu, juga mayoritas Muslim di Makkah dan belahan dunia Islam lainnya, seperti amaliah ziarah kubur, merayakan maulid Nabi, do’a qunut subuh, talqin mayyit dan lain-lain. Oleh generasi kaum puritan berikutnya di Nusantara, amaliah-amaliah itu sering disebut sebagai “penyakit TBC” (Tahayul, Bid’ah, Churafat).
Tercatat ada tujuh belas masalah yang menjadi inti pokok pemikiran orang-orang puritan Minangkabau di Makkah tersebut yang berseberangan dengan pendapat mayoritas. Tujuh belas pandangan pemikiran mereka itu antara lain: (1) Berlafaz niyat (membaca usholli) sebelum takbiratul ihram hukumnya adalah bid’ah dhalalah (sesat); (2) Menyentuh mushaf dalam keadaan berhadats hukumnya adalah boleh; (3) Berdiri ketika menyebut kisah maulid Nabi Muhammad SAW (mahallul qiyam) hukumnya adalah bid’ah dhalalah; (4) Menambahkan lafaz “Sayyidina” dalam bacaan-bacaan shalat hukumnya adalah bid’ah dhalalah; (5) Menjamak shalat (baik takdim atau ta’khir) dalam keadaan hadir (tidak ada uzur) hukumnya adalah boleh; (6) Menjatuhkan talak tiga dalam keadaan marah hukumnya adalah talak satu; (7) Menikah tanpa adanya wali dan saksi hukumnya adalah sah (boleh); (8) Ayat menutup muka perempuan (cadar) itu tertentang dengan orang tanah Arab; (9) Mengangkat tangan saat membaca do’a qunut hukumnya adalah makruh; (10) Ziarah makam Nabi Muhammad SAW hukumnya adalah haram; (11) Menghisap rokok tidak membatalkan puasa; (12) Membaca do’a iftitah dalam shalat hukumnya adalah makruh; (13) Talqin mayyit itu hukumnya adalah bid’ah dhalalah; (14) Memakai kain sutera, emas dan perak bagi laki-laki hukumnya adalah boleh; (15) Orang awam boleh tidak melakukan shalat jum’at; (16) Badal haji bagi orang yang sudah meninggal tidak akan sampai pahalanya; (17) Orang berhaji masuk Makkah tanpa memakai kain ihram hukumnya adalah boleh.
* * * * *
Orang-orang puritan (Kaum Muda) Minangkabau di Makkah itu kemudian “diadili” secara ilmiah dalam sebuah forum debat terbuka. Forum tersebut difasilitasi langsung oleh Raja Hijaz pada saat itu, yaitu Syarif Husain b. Ali (m. 1916-1924), juga dipromotori oleh Qâdhi al-Qudhât (pimpinan dewan hakim agama tertinggi) Makkah, para mufti empat madzhab di Makkah, para ulama senior Masjidil Haram termasuk yang berasal dari Nusantara, juga disaksikan oleh ribuan orang asal Nusantara yang mermukim di Makkah.

Dalam debat tersebut, orang-orang puritan itu pun tak dapat berkutik, terdedah kelemahan-kelemahan argumentasinya, sekaligus terbongkar kesalahan-kesalahan hujjah-dalilnya. Mereka pun kemudian ber-istirjâ’ (menarik pandangan-pandangan mereka), mengakui kesalahan-kesalahan pemikiran mereka, dan secara terbuka pula mengumumkan pertaubatan mereka dari faham tersebut.
Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada hari Sabtu 22 Rajab tahun 1341 Hijri (bertepatan dengan 10 Maret 1923) dan berakhir hingga 14 Sya’ban (1 April) di tahun yang sama. Pernyataan dan pertaubatan para puritan Mianangkabau di Makkah itu pun ditulis dalam sebuah dokumen yang ditandatangani dan dibubuhkan cap mereka.
Di antara para mufti empat madzhab di Makkah dan para ulama senior yang mengajar di Masjidil Haram sebagaimana disinggung di atas, mereka itu adalah: Sayyid ‘Abdullâh al-Zawâwî (mufti madzhab Syafi’i), Syaikh ‘Umar Bâ-Junaid (mufti madzhab Hanbali), Syaikh Sa'îd al-Yamânî (imam dan ulama senior madzhab Syafi’i), Syaikh ‘Âbid b. Husain al-Mâlikî (mufti madzhab Maliki), Syaikh Muhammad ‘Alî b. Husain al-Mâlikî (imam dan ulama senior madzhab Maliki), Sayyid ‘Abbâs al-Mâlikî (imam dan ulama senior madzhab Maliki, kakek dari Sayyid Muhammad b. ‘Alwi b. ‘Abbas al-Mâlikî), Syaikh Jamâl al-Mâlikî (ulama senior madzhab Maliki), Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Jâwî (ulama senior madzhab Syafi’i asal Bogor), Syaikh ‘Abdul Qâdir al-Mandailî (ulama senior madzhab Syafi’i asal Mandailing), Syaikh Mahmud Zuhdî al-Jâwî (ulama senior madzhab Syafi’i asal Selangor) dan Syaikh Muhammad Nûr Fathânî (ulama senior madzhab Syafi’i asal Pattani). Adapun Qâdhî al-Qudhât Makkah yang dimaksudkan, beliau adalah Syaikh ‘Abdullâh b. ‘Abd al-Rahmân Sirâj al-Hanafî, seorang ulama besar madzhab Hanafi yang juga mahaguru ulama Nusantara di Makkah.
* * * * *
Nah, kitab “Badzl al-Nashîhah li Man Syadzdza ‘an Aqwâl al-Madzâhib al-Shahîhah” ini merupakan dokumen penting yang merekam babakan peristiwa bersejarah di atas. Kitab tersebut pada mulanya ditulis dalam bahasa Arab dan dicetak di Makkah, yang pada gilirannya kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu aksara Arab (Jawi).

Versi bahasa Melayu-Jawi dari kitab tersebut kemudian dimuat-ulang dalam majalah “Pengasuh” yang diterbitkan oleh Majelis Ugama Islam dan Istiadat Melayu Kelantan (Malaysia), pada bilangan ke-132, tahun ke-VI, bertarikh 15 Rabi’ul Awwal 1342 Hijri (25 Oktober 1923).
Tertulis dalam pembukaan kitab tersebut:
هندقله مڠتهوي اوله اورڠرامي بهواسڽ ستڠه درڤد اهل منڠكابو (فقيه نورث، عيدروس، منير، عبد المعين، قاسم محمودي، جيتوڠ دان تائيڠ) ڤد اين تاهن سنة 1341 مڽتاكن انتارا جماعة مريكئية اكن ببراڤ مسئله يڠتوجه بلس يڠ مڽلاهي. دان مڠاجر مريكئيت سݢل مريد٢ مريكئيت هڠݢ برهمبوران ڤد جماعه مريكئيت دانلاينڽ. دان كامي تاكوت درڤد مڽساتكن عوام درڤدا اورڠ٢ جاوي يڠدمكه.

(Hendaklah mengetahui oleh orang ramai bahwasannya setengah daripada ahli Minangkabau (Faqih Nuris, Idrus, Munir, Abdul Mu’in, Qasim Mahmudi, Jitung dan Taeng) pada ini tahun sanah 1341 menyatakan antara jemaat [kelompok] mereka itu akan beberapa masalah yang tujuh belas yang menyalahi. Dan mengajar mereka itu segala murid-murid mereka itu hingga berhamburan pada jemaat mereka itu dan lainnya. Dan kami takut daripada menyesatkan awam daripada orang-orang Jawi [Nusantara] yang di Makkah)
Adapun kutipan teks ikrar pertaubatan mereka itu adalah sebagaimana berikut:
كامي يڠ فقير كڤد الله تعالى (فقيه نورث، حاج عيدروس، حاج منير، حاج عبد المعين، حاج قاسم محمودي، حاج تائيڠ دان حاج بيتوڠ) تله بركات كامي بهواسڽ سݢل مسئله٢ يڠ توجه بلس اية تله كامي ملاكوكن مباحثه درڤدا (؟) بولن رجب سنة 1341 دڠن سهڠݢ هالوس فهم دن بهاس علم ڤد مجلس العلماء دمكة دهدافن مولانا حجة الأمة قاضي القضاة دڠن حضور سݢل مفتي٢ دان ببراڤ مسجد الحرام .....// ..... مك برتوبتله كامي سكلين سباݢي توبة نصوحا بهوا تياد كامي كمبالي كمدين درڤد تاريخ اين كڤدا اعتقاد دان برعمل دڠن ستو مقام شبهات٢ ببراڤ مسئله ايت بهكن اداله برعمل كامي سكلين دڠن بارڠيڠ دتتڤكن ددالم كتاب٢ سݢل مذهب يڠأمڤت ... ايتيميوا ڤول مذهب امام كامي سݢل اهل ڤقيه نݢري كامي اورڠ٢ جاوي دان يأيت مذهب امام الشافعي رضي الله عنه

(Kami yang fakir kepada Allah Ta'ala (Faqih Nuris, Haji Idrus, Haji Munir, Haji Abdul Mu'in, Haji Qasim Mahmudi, Haji Taeng dan Haji Bitung) telah berkata kami bahwasannya segala masalah-masalah yang tujuh belas itu telah kami melakukan mubahatsah (debat) daripada (?) bulan Rajab sanah 1341 dengan sungguh halus faham dan bahasa ilmu, pada majelis ulama di Makkah di hadapan Maulana Hujjah al-Ummah Qadhi al-Qudhat dengan hudur (hadir) segala mufti-mufti dan beberapa imam Masjid al-Haram …..//….. Maka bertaubatlah kami sekalian sebagai taubat nasuha bahwa tiada kami kembali kemudian daripada tarikh ini kepada i’tiqad dan beramal dengan satu macam syubhat-syubhat beberapa masalah itu. Bahkan adalah beramal kami sekalian dengan barang yang ditetapkan di dalam kitab-kitab segala madzhab yang empat ….. istimewa pula madzhab imam kami segala ahli fikih negeri kami orang-orang Jawi dan yaitu madzhab Imam Syafi’i RA)
Dalam kitab tersebut, disinggung juga beberapa nama ulama asal Minangkabau yang menjadi tokoh utama gerakan “Kaum Muda”. Mereka itu antara lain: Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah, ayah dari Buya Hamka), Haji Abdullah Munir, Lebai Zainuddin dan Haji Muhammad Jamil Jambek.
* * * * *
Perlu diketahui, bahwa sebelum tahun 1925, mayoritas ulama yang mengajar di Makkah dan Madinah (Hijaz) menganut faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang secara teologis (akidah) mengikuti Imam Abû Hasan al-Asy’arî atau Abû Manshûr al-Mâturidî, dalam yurisprudensi (fikih) mengikuti madzhab imam yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali), serta dalam etik-esoteris (tasawuf-tazkiyyah al-nafs) mengikuti Imam al-Ghazzâlî, Junaid al-Baghdâdî, atau para imam kutub tarekat seperti al-Syâdzilî, al-Jailânî, al-Naqsyabandî, al-Rifâ’î dan lain sebagainya. Tegasnya, sebelum tahun 1925, identitas dan tradisi keislaman yang berkembang di Hijaz adalah identitas dan tradisi Aswaja. Konstruk identitas, ideologi dan tradisi Aswaja di Hijaz ini mulai bergeser-haluan, pasca dikuasainya kota suci Makkah dan Madinah pada akhir tahun 1925 oleh tentara Kesultanan Nejd yang berafiliasi dengan faham Wahabi yang non-madzhab dan non-Aswaja.

Dalam konteks Nusantara, Minangkabau tampaknya menjadi gerbang masuknya faham Islam puritan yang berasal dari Timur Tengah, baik yang dipelopori oleh Muhammad b. Abdul Wahhab di Arabia (Wahabi) ataupun yang dipelopori oleh Rasyid Ridha di Mesir. Minangkabau lebih dahulu terinfliltrasi oleh faham puritan sebelum wilayah Nusantara lainnya. Hal ini pula yang menjadikan Minangkabau memiliki posisi penting dalam lembaran besar sejarah perkembangan pemikiran Islam masa modern di Nusantara.
Pada perempat pertama abad ke-20, Ranah Minang menyaksikan pergulatan pemikiran yang cukup sengit antara “Kaum Muda” yang berhaluan puritan, dengan “Kaum Tua” yang berhaluan tradisional (Aswaja). Menariknya, pergulatan pemikiran tersebut bukan hanya melahirkan dialektika intelektual yang dinamis, tetapi juga melahirkan khazanah karya pemikiran (turâts) yang luar biasa kaya.
Melalui warisan karya intelektual ulama Minangkabau itu, kita dapat melacak jejak-jejak dinamika pergulatan pemikiran tersebut. Seorang ulama dari Mianangkabau yang cemerlang, yaitu al-Fadhil Apria Putra, merangkum dinamika perdebatan itu dalam bukunya yang luar biasa, yaitu “Bibliografi Karya Ulama Minangkabau Awal Abad XX: Dinamika Intelektual Kaum Tua dan Kaum Muda” (2011).
Kitab “Badzl al-Nashîhah li Man Syadzdza ‘an Aqwâl al-Madzâhib al-Shahîhah” yang kita perbincangkan ini merupakan bahagian penting daripada khazanah karya pemikiran tersebut.
Wallahu A’lam
Sukabumi, Sya’ban 1441 Hijri/April 2020 Masehi


Sumber: https://www.facebook.com/ahmad.ginanjarsyaban/posts/10158167126634696

No comments