Breaking News

Romantisme dan Falasi Memedi Goenawan Mohamad (Bagian 4 dari 6 Tulisan)


Hamid Basyaib, mantan wartawan dan aktivis, kini menjabat sebagai Komisaris Balai Pustaka.


Raymond Kurzweil, yang meramalkan selambatnya pada 2045 akan tercipta manusia hibrid (gabungan fisik biologis dan perangkat-perangkat teknologis), merasa dia tinggal beberapa langkah lagi untuk mampu menciptakan pikiran, seperti ia petakan dengan terinci dalam bukunya How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed (Viking Penguin, 2012).
Tapi "beberapa langkah" itu tampaknya masih perlu dua puluh tahun lagi, selain pikiran ciptaannya mungkin saja tak sebaik akal manusia -- walau yang lebih mungkin adalah sebaliknya. Di buku itu ia bilang, misalnya, membran di dalam otak manusia mampu menyimpan 300 juta informasi – ia tentu bisa membuat “otak digital” berkali-kali lipat dari jumlah ini, sambil memberinya kemampuan untuk memanggil informasi itu kapan saja; hal yang tidak dimiliki otak biologis.
Jika orang seperti Ray Kurzweil menyatakan sesuatu yang berhubungan dengan sains dan teknologi, siapapun perlu menyimaknya, paling sedikit demi kejujuran intelektual. Ia satu dari 16 inventor terbesar Amerika.
Ia meramal dengan tepat berpuluh-puluh perkembangan sains dalam 40 tahun terakhir, dan ia kini direktur teknologi grup Google, yang antara lain membawahi DeepMind, perusahaan pencipta AlphaGo, komputer yang mengalahkan juara dunia Go (Wei qi) 18 kali, Lee Sedol; Go adalah permainan Cina kuno yang lebih rumit daripada catur.
Generasi AlphaGo berikutnya bahkan mengagetkan penciptanya sendiri karena komputer itu tampak mampu berpikir; pelatihnya hanya memasukkan data tentang aturan main Go, tanpa memasukkan satu pun contoh langkah, lalu AlphaGo berpikir sendiri dan menggerakkan buah-buah Go; selalu demikian dalam pelatihan yang tak terhitung banyaknya.
Kemungkinan-kemungkinan seperti inilah yang dirisaukan oleh fisikawan Stephen Hawking dan salah satu ikon teknologi Elon Musk, yang mendesak agar perangkat seperti AlphaGo dikembangkan dengan sangat hati-hati.
Menurut mereka robot-robot itu akan menghancurkan peradaban dunia, karena mereka mampu berkomunikasi antar sesama mereka, dan karena itu mungkin saja melakukan permufakatan jahat terhadap manusia dan dunia, terlepas dari arahan dan kendali "pawang"nya.
Sekadar perbandingan: pada 1997 IBM menciptakan Deep Blue, yang memenangkan pertandingan melawan juara dunia catur Gary Kasparov. Saya pernah memainkan partai mereka di situs chessgames.com dan pada langkah ke sekian, Kasparov benar-benar menjepit Deep Blue dengan sangat ketat tapi sangat halus, membuat komputer itu terdiam cukup lama.
Tapi akhirnya Deep Blue mampu mengelak, menyerang balik, dan Kasparov kalah. "Saya rasa mesin itu benar-benar mampu berpikir,” katanya seusai pertandingan. “Saya sudah menyusun serangan dengan sangat halus (dan ternyata ia tahu perangkap itu)."
Jenius seperti Kasparov disebut mampu memikirkan 15 variasi langkah per detik. Deep Blue bisa mempertimbangkan 200 ribu langkah per detik.
Dengan mengingat Moore's law, kita sulit membayangkan kekuatan AlphaGo, yang dikembangkan dua puluh tahun setelah Deep Blue, yang ditujukan terutama untuk keperluan medis -- pertandingan dengan Lee Sedol di Beijing itu cuma ujian kekuatan intelektualnya saja, dan dijadikan bukti bahwa mesin telah mengalahkan manusia; Sedol sendiri seusai pertandingan menyatakan mundur dari arena Go, sambil minta maaf bahwa ia telah gagal mempertahankan keunggulan manusia terhadap mesin.
***
Pada 1993, ilmuwan dan penulis novel fiksi-ilmiah Vernor Vinge menulis: "Dalam tiga puluh tahun mendatang kita akan memiliki perangkat teknologi yang mampu menciptakan kecerdasan manusia-super. Tak lama setelah itu sejarah manusia berakhir."
Ray Kurzweil, seperti sudah disebut, menilai ramalan Vinge terlalu cepat; ia sendiri memperhitungkan situasi itu akan dicapai pada 2045. Tapi harus diakui, sekarang, 27 tahun setelah Vinge meramal, sebagian elemen dalam ramalannya itu sudah terbukti. Menurut Kurzweil, pada 2045 itulah mulai terwujud era Singularity (istilah ini dipopulerkan oleh Kurzweil dan Vinge sejak duapuluhan tahun lalu).
Singularity adalah situasi ketika perkembangan teknologi bersifat uncontrollable atau tidak dapat dikendalikan oleh manusia; manusia hibrid [cyborg atau transhuman] yang tercipta di masa itu akan mampu meningkatkan kapasitasnya sendiri terus menerus. Ray Kurzweil memaparkan secara terinci skenario ini dalam bukunya yang terbit 2005, Singularity is Near: When Humans Transcend Biology -- saya tak kunjung tamat membaca karya 652 halaman ini.
Manusia yang dimaksud dalam "era manusia berakhir" adalah manusia yang kita kenal selama ini. Yang akan makin banyak muncul adalah manusia hibrid, gabungan organ-organ biologis dan teknologi, yang jauh lebih cerdas. Maka akan terjadi pula ledakan kecerdasan (intelligence explosion).
Tentu yang akan terjadi adalah seperti yang telah kita alami berulang kali selama ini: yang akan mampu membeli teknologi hibrid pertama-tama adalah orang-orang kaya; mereka inilah yang akan mengalahkan manusia-manusia biasa yang hanya memiliki kecerdasan alamiah-biologis. Lama kelamaan semakin banyak orang yang mampu membeli teknologi itu, karena harganya akan semakin murah.
Semua barang teknologi pun perjalanannya begitu. Dulu hanya orang kaya yang mampu membeli pesawat televisi, mobil atau sepeda motor; sekarang lebih dari separuh penduduk dunia memiliki telepon genggam yang harganya semakin murah (diukur dari kemampuannya dan harganya di masa lalu).
Terhadap prospek kemampuan hidup abadi itu, makin banyak orang yang percaya. Mereka melihat, tanpa intervensi teknologi secara langsung pun faktanya usia manusia terus memanjang.
Jika di abad ke-19 rata-rata harapan hidup global adalah 40 tahun, pada abad 20 life expectancy meningkat menjadi 70 tahun, maka secara teoretis -- berdasarkan pola peningkatan itu -- ada harapan rata-rata harapan hidup di abad ini sedikitnya adalah 130 tahun.
WHO pun sudah merevisi dan membuat standar baru kategori status usia. Sekarang orang berusia 50-65 tahun adalah "menjelang tua", 66-75 adalah "tua", usia 76-90 "sangat tua", dan 90 ke atas adalah "superold". Ini juga tentu berpengaruh pada penetapan batas usia pensiun bagi pegawai di seluruh dunia.
Sekarang, orang-orang seperti Raymond Kurzweil meramalkan prospek hidup abadi – suatu aspirasi tua manusia; mungkin karena ini pula muncul konsep afterlife, kehidupan setelah mati. Kebetulan sudah ada pula perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa cryonic, suatu metode pembekuan jasad dengan nitrogen cair.
Seorang yang saat ini berusia 70, misalnya, pada saat ia meninggal dunia kelak bisa minta jasa cryonic. Harapannya jika nanti ada teknologi yang mampu menghidupkannya lagi ia bisa mengikuti proses medis dan teknologi yang memungkinkannya hidup selama ribuan tahun atau bahkan abadi.
Televisi BBC pernah meliput perusahaan-perusahaan penyedia jasa cryonic itu, yang masih ditanggapi dengan skeptis oleh komunitas ilmiah mainstream. BBC mewawancarai anggota keluarga orang-orang yang ikut program tersebut, dan menginterviu para pakar yang menganut metode ini. Semua ahli itu menyatakan teknologi tersebut memang bisa dijalankan, meski sejauh ini jasad manusia yang di-cryonic belum bisa kembali utuh sepenuhnya.
Ray Kurzweil sendiri berencana mengikuti proses itu jika ia meninggal, dengan bergabung ke perusahaan Alcor Life Extension Foundation. Saat ini, selain memilih menu dengan ketat, ia menelan 100 tablet suplemen setiap hari; semula ia mengkonsumsi dua kali lipatnya; setelah muncul banyak kritik, ia mengurangi menjadi separohnya.
Dan dengan Singularity itu pula sejarah evolusi biologis manusia, yang sudah berlangsung selama 3.5 miliar tahun, berakhir. Manusia-hibrid akan berkembang ke arah yang belum bisa diramalkan dan mungkin tak pernah bisa diketahui. Kurzweil meramalkan transhuman akan memasal pada periode 2079-2099. Homo sapien akan keluar dari skema evolusi biologis.
Sejarawan Yuval Harari juga banyak menyinggung isu ini dalam buku dan ceramah-ceramahnya. Ia meramalkan di akhir abad ini manusia akan punah (bisa juga kita tafsirkan: ia menghitung masa lima puluhan tahun setelah ramalan Kurzweil 2045 itu, ketika semakin banyak warga bumi berubah menjadi manusia-hibrid).
Nada Harari cenderung murung dan pesimistik, sedangkan Kurzweil, yang telah menginvensi atau menginovasi banyak perangkat teknologi -- termasuk piano syntesizer yang mampu meniru instrumen asli nyaris sempurna, perangkat audio dan mesin alat bantu baca bagi tunanetra -- jauh lebih optimistik terhadap prospek hadirnya manusia-hibrid itu.
Seperti biasa, terhadap prospek perkembangan iptek semacam itu, banyak orang meragukan atau bahkan mencibir; menganggapnya berlebih-lebihan, dan semacamnya. Itu yang terjadi ketika mobil pertama dibuat oleh Henry Ford, ketika telepon dibuat oleh Graham Bell, ketika Wright bersaudara membuat pesawat udara dan memulainya dengan mengkhayal manusia bisa terbang.
Skeptisisme itu juga meruyak ketika Armstrong-Buzz-Aldrin menginjak bulan lima puluh tahun silam; cibiran itu pula yang mungkin hari-hari ini berjangkit di mana-mana ketika Elon Musk dan NASA sibuk mengurus rencana menaklukkan Mars dan ingin menjadikannya rumah baru umat manusia (dan ada orang Indonesia, Vera Mulyani, yang sejak beberapa tahun lalu mendirikan biro arsitek "Mars City Design" di Amerika untuk mendesain perumahan dll di Mars); itu juga yang membuat orang tertawa ketika teknologi komuniasi nirkabel dibuat, dan seterusnya.
Keraguan-keraguan semacam itulah yang memunculkan istilah konservatisme; orang memang cenderung memelihara saja (to conserve) apa yang sudah ada. Lalu muncul pula istilah rasionalisasi dan justifikasi -- alasan-alasan pembenaran dan persetujuan ketika apa yang diragukan itu ternyata kemudian terbukti.
Terhadap kritik-kritik yang meragukan ramalannya dan prospek muram yang dipaparkannya ("manusia akan punah di akhir abad 21 ini", yang dianggap terlalu cepat), Yuval Harari menanggapi enteng: kalaupun bukan di abad ini, kepunahan itu akan terjadi di abad 22 atau abad 23. "Apa artinya masa 100-200 tahun dalam konteks usia manusia yang 200 ribu tahun?" katanya – dengan ini orang makin sulit menyanggahnya.
***
Mereka yang cukup memahami situasinya dan mengerti bahwa prospek yang nyata ini memang merisaukan, berusaha keras menahan laju menuju Singularity itu. Maka, misalnya, Fisikawan Stephen Hawking bersama tiga rekannya -- pemenang Nobel Fisika Frank Wilczek, Fisikawan MIT Max Tegmark dan penulis buku teks utama tentang AI, Stuart Russel -- antara lain menulis surat terbuka di koran Huffington Post [2014], menanggapi film Transendence, yang menceritakan teknologi yang bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal, meski hanya dalam bentuk gambar dan komputer.
Muatan otak si mati (dimainkan oleh Johnny Depp) sebelumnya sudah diunggah ke komputer, dan setelah ia mati ia hidup lagi di komputer itu. (Ray Kurzweil sejak beberapa tahun lalu sungguh-sungguh mengupayakan hal itu untuk menghidupkan kembali ayahnya; dia kumpulkan semua bahan yang relevan; catatan-catatannya, gestur dan cara bicaranya, dsb. "Jadi kalau saya kangen sama Ayah, saya bisa mengobrol dengan dia," katanya).
Menurut Hawking dkk apa yang diceritakan dalam film Transendence memang bisa terjadi sungguhan, bukan sekadar cerita fiksi. Mereka cemas akan prospeknya bagi kemanusiaan. Dalam surat terbuka itu Hawking dkk meminta agar masalah ini -- misalnya prospek munculnya sistem persenjataan otonom yang mampu memilih sendiri targetnya, dan sanggup meningkatkan sendiri kemampuannya -- benar-benar dipikirkan oleh PBB. Mereka risau pula menyaksikan sedikitnya lembaga yang peduli pada upaya pembatasan dan kontrol terhadap AI. Yang ada, kata mereka, hanya beberapa LSM kecil seperti Cambridge Center for Existential Risk dan Future of Life Institute.
Dikoordinasi oleh Max Tegmark, Hawking dkk kembali meminta perhatian PBB tentang potensi ancaman tersebut beberapa tahun lalu. Kali ini mereka membuat petisi yang sejauh ini sudah ditandatangani oleh lebih dari 8.000 orang; meminta agar dilakukan upaya serius untuk mengoptimalkan pengembangan AI agar memberi manfaat sosial dan mengurangi dampak-dampaknya yang berbahaya bagi kehidupan umat manusia.
Begitu banyak nama besar yang menandatangani petisi itu, yang dimuat di situs futureoflife.org (siapapun bisa ikut menekennya sampai sekarang), termasuk Steve Wozniak (pendiri Apple Computer), Sam Harris (ahli neurosains dan pendiri Project Reason), Demis Hassabis dan Mustafa Suleyman (pendiri DeepMind, pembuat AlphaGo).

Terlibatnya nama-nama besar itu, para teoretisi utama dan teknolog di garis terdepan teknologi AI, menunjukkan keseriusan masalah ini. Mereka bahkan melampirkan dokumen panduan riset prioritas dalam petisi itu, yang boleh dimanfaatkan oleh siapa saja, agar AI bisa mendatangkan manfaat sosial optimal.


Sumber: 
https://www.facebook.com/hamid.basyaib/posts/10158392636474894

No comments