Breaking News

Maaf, Tanpa Judul (Jawaban buat Taufiqurrahman)


Goenawan Mohamad, penyair dan wartawan, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Tempo.

Pengantar: Taufiqurrahman menulis panjang, meramaikan polemik tentang sains yang “dipancing” dengan baik oleh AS Laksana. Saya menjawabnya di sini, kali ini tanpa judul karena tak ada satu dua kata yang pas untuk mencakup poin-poin yang saya akan kemukakan.
Model jawaban ini juga saya bikin sesuai dengan itu, terpecah-pecah; berbeda dengan tulisan sebelumnya.
*
TENTANG RAGU
Taufiqurrahman mengatakan: “Goenawan Mohamad memang seorang peragu—walau mungkin ia jenis peragu yang syahdu.”
Catatan saya:
Kayaknya Taufiq benar. Saya bersyukur. Ragu sering jadi awal filsafat dan ilmu — misalnya “keraguan Descartes”, “Cartesian doubt”.
Penjelasannya saya ambilkan saja dari Wikipedia: “Cartesian doubt is a systematic process of being skeptical about (or doubting) the truth of one's beliefs, which has become a characteristic method in philosophy.”.
*
TENTANG KEBIASAAN BURUK
Taufiqurrahman menyebut tentang “kebiasaan buruk GM dalam menulis esai: ‘cherry-picking...’”
Catatan saya:
Tentu saya bisa membantah bahwa saya punya “kebiasaan buruk dalam menulis essay,” dan bahwa saya “cherry-picking” kutipan. Tapi saya tak anggap perlu membela diri buat satu penilaian yang mirip adhominem. Saya tak ingin membuat percakapan ini menyimpang — atau jadi pertandingan tinju tempat kita balas membalas pukulan norak.
Saya ingin polemik ini tajam, terfokus, tanpa saling memburuk-burukkan “kebiasaan” lawan berbicara. Saya berharap pertukaran pendapat ini — yang jarang terjadi, dan ternyata diapresiasi banyak pembaca — bisa membentuk percakapan yang asyik. Kalau bisa, bahkan pertemanan, kalaupun bukan kesepakatan, dalam bidang pemikiran.
Setidaknya di masa “lokdon”...
*
TENTANG “PROTES PADA SAINS”
Taufiqurrahman mengatakan: Goenawan Mohamad mencomot separuh paragraf saja kalimat Karl Popper untuk mengkorfimasikan pandangannya sendiri yang berusaha memberi protes kepada sains.
Catatan saya:
Saya tak tahu di mana dalam tulisan saya ada kalimat yang menyatakan “protes kepada sains”. Mungkin Taufiq ketemu tulisan Goenawan Mohamad yang bukan saya.
Coba baca dengan seksama dan dalam tempo sesantai-santainya jawaban saya kepada AS Laksana. Di sana saya — yang mengaku “rada Popperan” — menyebut kekaguman Popper kepada pengetahuan ilmiah (“admiration for scientific knowledge”) —dan saya merasa cocok dengan sikap itu.
Dengan kata lain, tak ada protes saya kepada sains. Dalam jawaban saya kepada Nirwan Arsuka — orang yang lebih mengenal dunia sains ketimbang saya — saya bahkan mengatakan: “Saya tak meragukan apa yang didapat manusia dari sains”.
Jadi, dari mana Taufiq menyimpulkan saya menyatakan “protes kepada sains”? Saya duga ini karena ia tak mengerti kata “caveat”. Tulisnya: “GM merasa perlu untuk mengutip Popper, karena pandangan Popper diaggap sebagai ‘caveat’, protes...”
“Caveat”, protes? Bukankah artinya “peringatan agar berhati-hati”?
*
TENTANG SAINS SEBAGAI PANGLIMA
Taufiqurrahman menulis, bertanya, benarkah ketika sains menjadi panglima, sains akan terdorong mengedepankan kepastian? Benarkah ketika ilmu dijadikan sebagai sumber utama, ilmu pasti berhenti berproses mencari kebenaran?
Catatan saya:
Saya membayangkan sains sebagai penjelajahan yang terus menerus — kisah perjalanan yang, dalam gambar kulit buku Novum Organum, karya pelopor “The Age of Reason”, Francis Bacon, diibaratkan menerobos dua pilar Herkules menuju ke samudra mahaluas. Tekad sains adalah menempuh pelayaran dengan semboyan dari Perjanjian Lama: “Banyak yang akan berjalan, dan pengetahuan akan bertambah”.
Tapi kemudian, terutama di hari-hari ini, sang penjelajah didudukkan sebagai panglima kebijakan publik dalam pelbagai hal. Sebagai sang pemimpin, pendapatnya menentukan mana kebijakan yang benar mana yang keliru. Untuk itu ia mau tak mau di- (ter)-dorong memproduksi kepastian.
Seperti saya katakan kepada Lukas Luwarso, yang menulis dengan kalem dan jernih tentang ini, saya ingin mengingatkan bahwa dalam posisi sebagai panglima, sains bisa terjebak jadi tahanan VIP di markas komando: ia harus memberi rekomendasi yang persis, buat melayani apa yang diharapkan publik dan mereka yang mengatas-namakan publik.
Tentu ini tugas mulia, terutama jika buat menyelamatkan nyawa ribuan manusia. Tapi ada harga yang harus dibayar dalam instrumentalisasi sains.
Contoh yang terkenal ialah dukungan Stalin kepada Lysenko, direktur Genetika dalam Akademi Sains Uni Soviet, yang diharapkan mengubah pertanian Rusia yang miskin dan manusia Rusia yang lama. Dukungan itu demikian besar dengan rencana menciptakan “manusia baru Soviet” — meskipun dengan theori yang tak diuji.
Tanpa Stalin dan Lysenko, dewasa ini, dengan beberapa perkecualian, perkembangan sains tetap diterjemahkan sebagai perkembangan riset dan innovasi. Ukuran GII (Global Innovation Index) memicu persaingan modal dan kekuatan politik yang terus menerus. Investasi dalam bidang riset & pengembangan — yang dijadikan landasan teknologi baru dan pertumbuhan ekonomi — makin mendorong sains sebagai pendukung teknologi. Di posisi itu, kepastian, kegunaan, hasil temuan untuk diterapkan, adalah ukuran yang dipakai lembaga-lembaga riset. Terutama untuk mendapatkan dana buat kontinyuitas penelitian.
Yang sering dilupakan, yang kini mendominasi bidang sains bukanlah sang ilmuwan, melainkan pelbagai lembaga. Kita bukan lagi hidup di zaman Newton yang menggarap theori-theori pentingnya sendirian di pedalaman ketika mengungsi dari wabah yang menyerang London. Di zaman ini, sains ditopang institusi, bersama itu grant untuk riset, bahkan patronage oleh dunia bisnis dan Negara.
Kekuasaan-kekuasaan itu menghendaki target dan hasil yang siap pakai. Makin dianggap penting satu rencana riset, makin dibutuhkan ia untuk menentukan nasib bisnis dan kesejahteraan rakyat, makin dituntut ia untuk menawarkan satu produk yang tak bersifat provisional.
*
TENTANG HUSSERL
Taufiqurrahman menulis, bahwa ( ia mungkin hendak membantah yang saya sangka) fokus pandangan Husserl “bukanlah krisis epistemologis yang terjadi pada sains itu sendiri, melainkan krisis kemanusiaan”.
Maka, kata Taufiq, untuk mengatasi krisis kemanusiaan itu sains mesti mengubah fondasinya: dari matematika ke fenomenologi transendental. Sains seharusnya tidak berangkat dari kalkulasi matematis, tetapi dari pengalaman langsung manusia dalam dunia kehidupannya.
Kata Taufiqurrahman pula, tawaran itu akan menyulitkan ilmuwan untuk bekerja. Bagaimana cara ilmuwan untuk punya pengalaman langsung tentang virus, misalnya?
Catatan saya:
Kritik Husserl terhadap sains yang sejak Galileo mempertaruhkan diri pada kuantifikasi menyangkut erat dengan persoalan bagaimana manusia mengetahui dunia. Fisika ala Galielo melihat alam sebagai semesta matematis. Dengan kata lain, seperti dikatakan Husserl, ini adalah “matematisasi alam”.
Di sini mau tak mau kita harus “melantur” masuk ke dalam epistemologi, ke dalam telaah bagaimana kita mengetahui alam. Sejak Galileo, artinya sejak sains modern, kita mengenal sesuatu (batu, bintang, bangunan, badan, dan lain-lain) “hanya dalam wujud yang terus menerus dicocokkan dengan bentuk ideal geometris yang berfungsi sebagai tonggak pemandu”, untuk memakai kata-kata Husserl. Itu berarti matematika dan sains matematis, (dalam kiasan yang disukai Husserl), telah membentuk Ideenkleid, “jubah ide” yang menutupi apa saja yang kita cerap di dunia-kehidupan — apa saja yang kongkrit. Dengan metode induksi yang dipakai sains, semesta dan segala isinya dihadirkan dalam abstraksi dan formulasi. Sains menganggap itu gambaran realitas yang ada secara obyektif dan benar.
Fenomenologi tak hendak meniadakan sains. Para pakar virologi tetap dapat tempat yang terhormat. Sebagai sumbangan buat kearifan manusia, fenomenologi menawarkan pendekatan lain, yang terkenal dengan anjuran “Zurück zu den Sachen selbt!” — terjemahan kasarnya: kembalilah ke bendanya sendiri.
Dalam penafsiran saya, itu berarti yang tertutup oleh “jubah ide” dan lain-lain harus ditemui kembali. Artinya kita perlu kembali berada dalam dunia-kehidupan yang dibangun dari hal-hal yang unik dan kompleks.
Sebab ada hal lain yang perlu tersingkap. Sains modern tak pernah mempertanyakan, bagaimana sebenarnya alam semesta, hingga dapat ditampilkan secara koheren dalam bentuk matematis? Bagaimana caranya mem-verifikasikan itu?
Dalam “The Grand Design” Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow menjawab sebuah persoalan yang dikemukakan Einstein dalam sebuah paradoks: „The most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible.”. Kepada persoalan ini, Stephen Hawking menegaskan premis Galileo: “The universe is comprehensible because it is governed by scientific laws; that is to say, its behavior can be modeled.” Yang tak ditanyakan oleh dua orang piawai itu: mengapa alam semesta kita “is governed by scientific laws.”?
Kritik Husserl kepada sains modern yang dibawa Galielo akhirnya menunjukkan, sains tak mempertanyakan semua, dan sebab itu tak menjawab semua.
Di tahun 1962, saya pernah mengutip satu refleksi Alfred North Whitehead:
“Apabila kita memahami segalanya tentang matahari, segalanya tentang atmosfir, dan segalanya tentang rotasi bumi, kita masih terluput untuk melihat kecemerlangan sinar matahari terbenam.”
Waktu itu saya membicarakan sajak Soebagio Sastrowardojo, “Manusia Pertama di Angkasa Luar” — manusia yang merasa dipisahkan dari dunia oleh “rumus ilmu pasti yang penuh janji”.
Matematisasi alam, yang menghasilkan prestasi ilmiah yang hebat, juga punya “collateral damage”: keterasingan manusia dari alam dan dari proses serta hasil karyanya sendiri. Dalam konteks lain, Marx menyebutnya Entfremdung.
Pada akhirnya, kritik epistemologis bertaut erat dengan persoalan ethis: bagaimana aku menerima dan memperlakukan yang-bukan-aku, “the other”.
*
TENTANG HEIDEGGER (I)
Taufiqurrahman mengatakan tentang Heidegger:
‘Kritik Heidegger terhadap sains—juga terhadap teknologi—bisa saya terima: bahwa dunia yang tampil melalui sains (juga melalui teknologi) adalah dunia yang telah mengalami pembingkaian (enframing). Pembingkaian inilah, kata Heidegger, yang menjadi esensi dari teknologi. Namun, pertanyaannya: memangnya ada jenis pengetahuan lain yang tidak membingkai atau—dalam istilah GM—“mereduksi” objeknya?
Komentar saya:
Ada. Karya seni, misalnya, adalah cara mengetahui dunia tanpa pembingkaian — jika kita lihat pembingkaian (Gestel) adalah mereduksi dan menguasai. Hedegger menunjukkan, ketika kita menghadapi dunia, ketika aku menyambut “yang-bukan-aku” dengan terbuka dan membiarkannya leluasa, dengan Gelassenheit, tak ada pembingkaian.
Seorang psikolog juga harus berada dalam sikap “Gelassenheit”, ketika ia berhubungan dengan orang yang datang kepadanya karena hendak melepaskan diri dari situasi kejiwaan tertentu.
TENTANG HEIDEGGER (2)
Taufiqurrahman menulis: “Heidegger di fase akhir pemikirannya kemudian melirik puisi. Di situlah kritik Heidegger terhadap sains pada akhirnya tidak menghasilkan apa-apa, selain hanya kata-kata penuh metafora.’
Komentar saya:
Mengatakan kritik Heidegger terhadap sains “tidak menghasilkan apa-apa” adalah sebuah pernyataan yang gagah perkasa tapi, maaf, gegabah.
Pandangan Heidegger yang memujikan “pemikiran puitis”, berpengaruh besar dalam pelbagai bidang. Kita menemukannya dalam pemikiran dan praktek arsitektur, misalnya pada karya Peter Zhumtor, arsitek terkemuka Swiss. Saya pernah ketemu sebuah buku, “An Ontology of Trash” yang menganalisa problem manusia dengan sampah. Di sana penulisnya banyak menimba pemikiran Heidegger. Pengaruh Heidegger memang kuat dalam gerakan “deep ecology” yang memandang problem-problem lingkungan dengan menekankan segi ethis. Pengaruh Heidegger pada bidang lain tampak pada theologi, misalnya pada pemikiran Jean-Luc Marion.
Jadi, Taufiq, anda keliru untuk mengatakan pandangan Heidegger “tidak menghasilkan apa-apa, selain hanya kata-kata penuh metafora.”
*
TENTANG SAINTISME
Taufiqurrahman, dalam menyerang pendapat Ulil, memakai pengertian Mario Bunge tentang saintisme. Bagi Bunge, “the thesis that all cognitive problems concerning the world are best tackled adopting the scientific approach, also called ‘the spirit of science’ and ‘the scientific attitude’.”
Komentar saya:
Kata kunci dalam pengertian Bunge adalah “best”. Dan itulah salahnya. Menganggap pemakaian pendekatan sains sebagai yang paling bagus dalam menghadapi semua masalah kognitif dalam hidup ini berarti menomor-duakan pendekatan lain. Maksud saya, pengetahuan yang tidak cocok dengan sains modern, dan sebab itu disebut “tidak ilmiah”, tak berarti klenik.
Dalam “Monopolizing Knowledge” (2011), Ian Hutchinson, guru besar nuclear science di MIT ini menunjukkan satu ciri saintisme: memenganggap bahwa hanya sains — artinya ilmu-ilmu alam modern, pewaris revolusi ilmu yang bermula sejak abad ke-16 — yang bisa dibenarkan (justified) dan rasional. Bagi Hutchinson, itu “sebuah kesalahan intelektual yang mengerikan”, “a ghastly intellectual mistake.”
Hal ini sudah saya uraikan cukup panjang dalam tulisan saya buat Nirwan Arsuka. Mudah-mudahan Taufiq sudi membacanya.
Sebab membaca terus tulisan saya akan membosankan.
Sekian dulu.


Jakarta, 4 Juni 2020.


Sumber: https://www.facebook.com/gmgmofficial/posts/3535021433178630

No comments