Breaking News

Nalar Realis Memahami Sains: Respons atas Interupsi F. Budi Hardiman terhadap Goenawan Mohamad dan A.S. Laksana


Husain Heruyantopengajar Filsafat Sains di Universitas Paramadina, Pascasarjana Universitas Indonesia.


Menyadari bahwa diskusi yang berlangsung antara Goenawan Mohamad (GM) dan A.S. Laksana (ASL) masih di luar gelanggang perdebatan sains, baik dalam “the context of discovery” maupun “the context of justification”—dua istilah baku dalam studi sains yang diperkenalkan oleh Hans Reichenbach—. Tulisan ini mencoba menyajikan cara kerja Nalar Realis dalam memahami sains supaya diskusi yang menghangatkan pikiran ini tidak berhenti pada sensasi permainan bahasa dan istilah belaka atau meminjam istilah F. Budi Hardiman (FBH) “babak adu mulut”.
Bahasa dan sastra (sistem penanda) memang penting tapi makna dan realitas (sistem petanda) yang dirujuk bahasa lebih penting. George Sarton, seorang peneliti dan penulis sejarah sains terkemuka asal Harvard University, menulis “Sebagian besar penulis (most men of letters) dan, maaf saya tambahkan, tak sedikit saintis, hanya mengetahui sains melalui pencapaian-pencapaian materialnya, tetapi mengabaikan spirit ilmiahnya dan gagal memahami keindahan internal sains sebagai usaha mengesktraksi alam semesta” (A History of Science, 1952).
Karya Sarton A History of Science  yang tersusun dari tiga volume dengan total 1800-an halaman itu, menjadi buku daras studi sejarah sains di berbagai universitas dunia dan wajib dibaca oleh setiap orang yang hendak memahami betul karakteristik dan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan secara memadai agar—mengutip ungkapan Thomas Kuhn dalam  “The Structure of Scientific Revolutions” (1962)—tidak sekedar menjadi seorang turis museum sains yang mengenalnya melalui brosur (a tourist brochure) atau sebuah teks bahasa (a language text), atau mungkin istilah sekarang dikutip dari mbah Google.
Salah satu kesimpulan utama riset Sarton selama 25 tahun (1927-1952) menyelidiki perkembangan sains dimulai dari zaman prasejarah, peradaban Mesir, Mesopotamia, Syria, Persia, Yunani, Aleksandria-Helenistik, Islam/Asia Barat, Renaisans Eropa hingga peradaban sains modern adalah “perkembangan sains di manapun dan periode apapun tidak terjadi tiba-tiba yang muncul dari kevakuman nilai kultural dan spirit zaman yang melambari dinamika sains”.  Sarton menggarisbawahi kelahiran sains sebagai bagian integral dari usaha manusia memahami diri dan dunia dengan segala persoalannya.
Menarik pula dicatat, hampir di kurun waktu yang sama, ketika sains modern mencapai perkembangan revolusioner yang menakjubkan dengan kemunculan teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum (Niels Bohr, Heisenbeg, Schrodinger), Karl Popper menulis The Logic of Scientific Discovery (1959). Uniknya, melalui pendekatan yang berbeda, yaitu historis (Sarton) dan logika formal-material (Popper), setelah mendedah dengan penuh seksama dan rinci bagaimana sains itu berkembang, keduanya menyimpulkan bahwa teori-teori saintifik adalah hasil dari imajinasi kreatif yang diproses dan dikonstruksi oleh pengujian yang terpola dan terstruktur. Mungkin menyadari keniscayaan proses pemikiran kreatif inilah Einstein menyatakan, “Imajinasi lebih luas dari pengetahuan”. (Einstein: “Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited to all we now know and understand, while imagination embraces the entire world, and all there ever will be to know and understand”)
Nalar Realis dan Konstruksi Sains
Pengujian yang terpola dan terstruktur itu berasal dari mana? Tidak lain ia berasal dari logika. Di mana logika itu?  Ia hadir dalam pikiran. Ibn Sina mendefinisikan logika sebagai perangkat metodis berupa prinsip-prinsip dasar berpikir yang jika dioperasionalkan akan mencegah kesalahan pemikiran (Isyārāt wa Tanbīhāt, bab Manthiq).  Ibn Sina dengan jeli menggunakan frase “mencegah kesalahan pemikiran” (al-khathā-i fī al-fikr) karena peran kunci logika (formal) terletak dalam pencegahan kesalahan pemikiran, bukan pencarian kebenaran.
Tidak seperti logika transendental idealisme Kant (baca, Lectures on the Blomberg Logic) atau apalagi logika dialektika Hegel yang begitu antusias menekankan kemandiran absolut akal yang bersifat apriori, Ibn Sina—sebagai filsuf realis dan juga ilmuwan—mengakui pengalaman dengan dunia luar sebagai sumber pengetahuan mengenai alam empiris. Bagi Ibn Sina, logika sangat penting dalam proses konstruksi pengetahuan tetapi tidak mengidolakannya sebagai kategori transendental Kantian atau idea mutlak-sebagai-yang real Hegelian.
Hal ini bisa dimaklumi mengingat Ibn Sina adalah filsuf realis, sementara Kant dan Hegel tergolong filsuf idealis meskipun di antara kedua filsuf Jerman ini juga berbeda tipe idealisme mereka; sesuatu yang bukan tempatnya dibahas di ruang ini. Sebagai dokter, yang menurut George Sarton (1952) berpengaruh luas hingga abad ke-19 di Barat dan Timur serta karyanya “Qānun fī al-Thībb” (Canon of Medicine) merupakan salah satu buku yang paling banyak diterjemahkan selama era renaisans di Eropa, Ibn Sina tentu sangat memahami cara kerja sains.  Dia membahas epistemologi sains dari pengalamannya langsung sebagai ilmuwan, bukan sebagai orang luar yang mencoba memahami (baca: melaporkan) sains sebagaimana yang terjadi pada sebagian pemikir, filsuf atau pujangga (meskipun secara verbal tampak begitu mabuk dan terpesona dalam melihat sains dengan, meminjam frase GM, “Mata yang berbinar-binar”).
Ibn Sina menguraikan bahwa pengalaman dengan dunia empiris terjadi melalui tiga persepsi (al-idrāk) yang utama, yaitu persepsi indrawi (al-issī), persepsi imajinatif (al-khayālī), dan persepsi intelek (al-‘aqlī). Melalui pengalaman indra, dokter atau ahli virus mengenali gejala-gejala infeksi virus SARS-CoV-2, yang kemudiaan diidentifikasi sebagai penyakit COVID-19. Bagaimana dokter tiba pada kesimpulan itu? Tak lain karena mereka mengoperasionalkan persepsi imajinatif yang merekam pengalaman. Tanpa imajinasi tidak akan ada secuil pengalaman indrawi apapun yang terekam dalam mental pikiran. Demikian uraian Ibn Sina mengenai pentingnya imajinasi dalam rekonstruksi pengetahuan.
Tapi, kenapa hanya dokter atau ahli virus yang bisa mengidentifikasi gejala-gejala COVID-19? Bukankah banyak orang yang telah terinfeksi  COVID-19 tersebut yang artinya mereka telah memiliki pengalaman indrawi dan imajinatif?  Kenapa hanya dokter yang bisa mengidentifikasinya padahal sebagian besar dari mereka tidak mengalami langsung gejala-gejala COVID-19 tersebut? 
Dengan kata lain, mengapa penderita COVID-19 gagal mengidentifikasi penyakitnya melalui pengalaman indrawi dan sekaligus persepsi imajinasinya, sementara dokter yang sehat justru bisa mengidentifikasinya. Jawabannya, sang dokter memiliki intelek yang sebelumnya telah mempersepsi gugus konsep mengenai sifat-sifat dan perilaku berbagai jenis virus. Sementara penderita COVID-19 meskipun sudah langsung merasakan gejala-gejalanya dan juga merekamnya dalam imajinasi (terbukti ketika sembuh dia masih bisa mengingatnya) tidak akan bisa mengidentifikasi COVID-19 karena dia tidak memiliki konsep yang memadai tentang sifat dan perilaku virus.
Di sinilah Ibn Sina menekankan peran krusial akal dalam melahirkan konsep-konsep umum (tashawwurāt kulli), yang lalu dalam kajian khusus epistemologi para filsuf Muslim kontemporer (sebut saja Allamah Thabathaba’i, Murtadha Muthahhari; baca Ushūl al-Falsafah) menyebutkannya dengan istilah ma’qūlāt awwaliyah (first intelligibles; konsep-konsep universal yang pertama). Karena konsep-konsep ini merupakan esensi entitas-entitas, mereka disebut juga “whatness concepts” (ma’qūlāt māhiyah; konsep keapaan). Jadi, berbagai konsep yang dikenal dalam sains atau ilmu pengetahuan pada umumnya merupakan whatness concepts, sebut saja mulai “virus”, “hewan”, kecepatan”, “percepatan”, “gravitasi”,  “air”, “emas”, tanaman”, “bunga”, “atom”, “elektron”, “massa”, “matahari”, “planet”, “laut”, “tubuh”, “jantung”, “saraf”, “darah”, hingga konsep “manusia”. Konsep-konsep ini memiliki contoh partikular yang bisa ditunjuk dan menempati ruang-waktu tertentu.
Ibn Sina lalu menyebutkan bahwa  saintis pun pasti sudah mengoperasionalkan dua jenis konsep lain, yaitu ma’qūlāt tsaniyya falsafī (secondary philosophical concepts: sebut saja konsep filosofis) dan ma’qūlāt tsaniya manthiqī (secondary logical concepts; sebut saja konsep logis). Konsep filosofis adalah konsep yang tidak memiliki entitas partikular; ia hadir dalam pikiran dan realitas secara umum. Misalnya konsep “sebab akibat”. “Sebab” merupakan produk kreativitas pikiran yang melihat relasi kausal-eksistensial antara dua fenomena, yaitu satu peristiwa/keadaan/entitas yang merupakan alasan munculnya peristiwa/keadaan/entitas yang lain; yang pertama disebut “sebab” dan yang kedua disebut “akibat”. Yang menghubungkan atau “melihat hubungan” antara kedua peristiwa/keadaan/entitas itu adalah akal, bukan indera.
Sebagai contoh, ketika kita memanaskan air dengan kompor gas lalu air itu mendidih, maka akal kita menciptakan konsep (dalam filsafat Islam dikenal dengan intizā’) tentang relasi kausal antara dua peristiwa, yaitu panas sebagai penyebab dan mendidihnya air sebagai akibat. Bukti nyata konsep sebab itu adalah konsep filosofis terletak pada keadaan bahwa kita tidak bisa menunjuk contoh partikular sebab itu.
Kenapa?  Karena “sebab” tidak memiliki entitas partikular. Panas yang kita kategorikan sebagai sebab hanya berlaku untuk relasi dengan peristiwa air mendidih; kita tidak bisa melekatkan panas sebagai contoh “entitas sebab” sebab karena fakta di dunia luar panas itu sendiri adalah akibat jika dihubungkan dengan terbakarnya gas oleh kompor. Dalam relasi ini, yang merupakan sebab adalah gas kompor (bersama zat pembakar oksigen) dan panas adalah akibat. Dan seterusnya gas kompor itu juga sekaligus adalah akibat dalam hubungannya dengan keberadaan tabung gas, dan demikian selanjutnya.
Walhasil, kita tidak bisa mengidentifikasi entitas konsep sebab atau menunjuk contoh partikular yang mana sebab itu tanpa dikaitkan dengan peristiwa/keadaan lain. Konsep sebab hanya bisa dijelaskan dengan keterangan tapi tidak bisa ditunjuk secara konkrit.  Ini jelas berbeda dengan konsep keapaan (whatness concepts) seperti “hewan”, “virus”, atau “manusia”.  Amir, Budi, Cecep, Dewi adalah contoh-contoh partikular konsep manusia.  Kucing di rumah kita adalah cotoh partikular konsep hewan; SARS-CoV-2 yang bersarang di paru-paru seorang pasien di rumah sakit A adalah contoh partikular konsep virus.
Nah, berbeda dengan konsep-konsep  keapaan itu, semua konsep filosofis tidak memiliki entitas partikular. Namun, mereka hadir dalam pikiran, yang kalau absen dari pikiran maka tidak akan lahir pengetahuan umum apapun termasuk sains. Bukankah berbagai penyelidikan sains berpijak pada keyakinan bahwa segala peristiwa memiliki sebab?
Sekarang pertanyaannya, dari mana keyakinan kepada hukum sebab akibat ini? Indera jelas tidak berperan apa-apa dalam mencetuskan konsep sebab. Sains pun tidak mungkin membuktikannya. Sains hanya mengasumsikan bahwa alam semesta ini memiliki hukum-hukum yang tunduk pada hukum primer yaitu hukum kausalitas; dan atas dasar asumsi inilah segenap penelitian dan penyelidikan sains memiliki makna untuk dikerjakan.
Dengan kata lain, sains meminjam dari filsafat karena konsep sebab akibat hanya dibuktikan melalui akal semata. Jadi, rukun iman pertama sains itu adalah percaya kepada hukum sebab akibat.
Tentu banyak konsep filosofis lain yang telah diasumsikan dan diterima begitu saja oleh para saintis seperti “ada”, “tiada”, “mungkin”, “niscaya”, “mustahil”, “keteraturan”, “chaos”, “tatanan”, “alam semesta”, “kemanusiaan”, “keadilan”, “kebebasan”, “awal”, “akhir”, “cita-cita”, “visi”, “titik nol”, “kehendak”, “sistem”, “keseluruhan”, “bagian”, “teori”, “kebahagiaan”, dan seterusnya yang tidak mungkin kita hidup tanpa konsep-konsep ini.
Demikian pula, para saintis juga pasti sudah mengoperasionalkan konsep-konsep logis dan matematis seperti “universal”, “partikular”, “kontradiksi”, “dan”, “atau”, “jika maka”, “walaupun”, “garis lurus”, “titik”, “dimensi dua”, “vektor”, “arah”, “induksi”, “deduksi”, dan seterusnya.
Uraian yang agak detail ini (tentu jika kita bicara konstruksi sains harus siap berbicara dengan nalar logis-analitis dan tidak berpuas diri dengan narasi besar yang miskin eksplanasi) saya posisikan sebagai pemicu diskusi tentang sains secara lebih konstruktif dan mulai memasuki gelanggang perdebatan ilmiah. Setidaknya, tulisan ini merupakan sebuah respons untuk memenuhi ekspektasi FBH agar, mengutip ungkapan FBH sendiri, “(menjadi) debat tulisan yang sangat menjanjikan untuk berkembang menjadi silang gagasan bermutu yang mendidik publik kita agar tidak hanya haus sensasi, tapi juga lapar nalar.”
Sumber: https://baca.nuralwala.id/nalar-realis-memahami-sains-respons-atas-interupsi-f-budi-hardiman-terhadap-goenawan-mohamad-dan-a-s-laksana

No comments