Breaking News

Perang Maritim Terbesar Abad 19 di Palembang (Bag. 2 - Habis)

 

Sutan Adil, penulis dan pemerhati sejarah.  Lewat Sutan Adil Institute yang didirikannya, selain aktif menyelenggarakan webinar kesejarahan, tengah menyiapkan sebuah misi besar untuk melakukan penelusuran situs sejarah di Sumatera dalam program Ekspedisi Sriwijaya 2022

Bag. 2 (Habis)

Pasukan Belanda dalam kejutan, karena hanya dalam tempo sekitar tiga bulan, Sultan dan rakyat Palembang telah berhasil membangun sistem pertahanan yang sangat kuat. Suatu hal di luar perkiraan mereka, sebagaimana dinyatakan oleh Meis dalam memorinya bahwa Badarudin telah mempersiapkan suatu proyek pertahanan raksasa. Apa yang disampaikan di atas sangat berlebihan, karena sebuah kerja yang sangat besar dan berat dapat diwujudkan dengan hasil yang sangat mencengangkan. Palembang mampu membangun pertahanan yang begitu kuat dalam waktu yang sangat singkat.

Benteng Pulau Kemaro baru dapat didekati oleh armada Belanda pada 18 Oktober 1819. Beberapa kali mereka mencoba mendekati benteng-benteng pertahanan Palembang selalu gagal. Serangan gencar yang mereka lakukan dari kapal Eendracht, Ajax, Irene, Wilhelmina, Arinus Marinus, dan Emma dua hari berikutnya, dan itu mendapat balasan dari benteng-benteng Palembang, sehingga terjadi peperangan yang dahsyat. Perlawanan yang hebat dari Pasukan Palembang, dan derasnya aliran Sungai Musi, serta kencangnya angin paksa Belanda.

Kerugian yang mereka derita adalah sebanyak 125 orang serdadu tewas, dan 46 orang terluka. Sedangkan, dipihak Palembang tidak mengalami kerugian yang berarti. Dalam laporannya Wolterbeek menyatakan bahwa kerugian yang diderita oleh pasukan Belanda tidak sebanding dengan kegagalan yang harus mereka pikul.

Peperangan pecah kembali pada hari-hari berikutnya, namun tetap tidak membawa hasil yang menggembirakan bagi pasukan Belanda. Menurut Wolterbeek, sesungguhnya pertahanan Palembang dapat ditembus asalkan pusat pertahanan (benteng Pulau Kemaro) mereka berhasil didekat. Namun, mereka tidak memiliki sarana (perahu perahu kecil untuk memudahkan), sedangkan kondisi mereka pada waktu yang terbatas dengan jumlah korban jiwa, dan ketersediaan. Posisi pasukan Belanda semakin terdesak yang akhirnya pada 30 Oktober 1819, Laksamana Wolterbeek memutuskan untuk mundur ke Sungsang dan memblokade daerah itu.

Kekalahan tersebut membuat geram petinggi-petinggi di Batavia dan akhirnya Wolterbeck diturunkan dari jabatan panglima perang di Palembang. Kali ini Belanda mempersiapkan secara besar-besaran keperluan perangnya di Palembang. Persiapan dilakukan selama 3 tahun, dari tahun 1819 sampai 1821. Untuk memperkuat armada tempurnya, Belanda memesan kapal-kapal langsung dari Amsterdam. Selain itu, Belanda juga pasukan Eropa yang merupakan veteran di masa perang Napoleon.

Untuk pemimpin armada kali ini adalah Mayor Jendral de Kock. Kekuatan Belanda saat itu ditaksir mencapai 10 kali lipat lebih besar dari serangan keduanya, dengan jumlah personel 7000 orang dan kapal tempur yang dikunjungi 47 buah. Armada besar itu akhirnya berangkat ke Palembang pada 9 Mei 1821 dari Batavia.

Di kubu kesultanan sendiri, setelah pertempuran 21 oktober 1819, Sultan Mahmud Badaruddin II mengangkat Pangeran Ratu menjadi Sultan di Kesultanan Palembang dengan gelar Ahmad Najamuddin ll. Hal ini dilakukan karena Sultan Mahmud Badaruddin II ingin tetap fokus melawan Belanda dan menghindarinya dari Tanah Palembang.

Maka komando perang masih tetap dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Sultan juga mempersiap perlawan rakyat semesta dengan kekuatan sekitar 7000 sampai 8000 orang.Benteng-benteng di Pulau Kembaro dan Plajuwisata kembali dengan meriam-meriam yang dibeli oleh sang Sultan dari seorang Eropa. Sultan memasang meriam-meriam, dan peluru-peluru (dari Sungsang sampai Pulau Kemaro disiapkan 60 lobang), menyiapkan rakit-rakit yang mudah dibakar, rakitrakit inilah yang akan menghantam armada Belanda, benteng pertahanan di Sunsang (dua kubu denganluas bangunan berkisar 15.24 meter) sampai 22.86 meter), benteng di Pulau Keramat, Pulau Salanama, Pulau Gombora (Kembara atau Kemaro, di bagian tenggara pulau ini disiapkan 12 lobang tembakan), 

Di setiap sudut pulau tersebut ditempatkan meriam dengan masing-masing dua lobang tembak. Tiap benteng dengan 50 meriam dengan ukuran 8 sampai 24 pon sedangkan sisi darat yang dibangun sangat kokoh, tutup pula oleh pohon-pohon besar yang kokoh. Pertahanan lain adalah menutup Sungai Musi dengan memasang-tonggak dari Pulau Kemaro sampai Plaju garis, dengan garis tengah 61 sentimeter. Tonggak-tonggak itu ditancapkan di sungai pada kedalaman 24,4 meter. Pertahanan semakin lengkap dengan disiagakannya sebuah layar tiga tiang dan beberapa kapal angkatan bersenjata. 

Di muara Plaju dan di bagian belakang bentengnya, dan di depan benteng Kemaro disiagakan rakit-rakit yang siap dibakar. Sedangkan di sisi kiri-kanan Sungai Musi banyak terdapat rawa-rawa dan anak-anak sungai (ibu kota Palembang yang terkenal sebagai kota yang dialiri oleh 20 sungai). Semua itu menjadi pertahanan alam yang sangat baik, sekaligus untuk melakukan penyerangan terhadap musuh. Benteng Kuto Besak, sebagai pusat kekuasaan Sultan, dilengkapi dengan meriam-meriam berbagai ukuran.

Armada de Kock pun akhirnya di muara sungai Musi pada 22 Mei 1821. Hambatan-hambatan yang ditemui oleh Wolterbeck saat serangan kedua bisa ditangani dengan baik oleh de Kock. Pos-pos meriam tersembunyi di pesisir sungai Musi bisa diketahui dan dipelajari karena dia telah mendapatkan peta strategi Badaruddin II dari mata mata yang berkhianat. Satu-satunya hambatan yang berarti bagi armada itu hanyalah penyakit. Banyak serdadu-serdadu Eropa yang belum bisa beradaptasi dengan cuaca tropis dan akhirnya 100 personel tewas akibat wabah penyakit tropis. Pada 16 Juni 1821, armada itu sampai ke mulut Pulau Kembaro dan Plaju.

Usahanya untuk melumpuhkan benteng Tambak Baya, salah satu posisi vital pasukan Palembang, berakhir dengan kegagalan. Hasil de Kock telah menabrak jebakan di sekitar Pulau Kembaro dan Plaju itu. pertempuran. Di saat kapal-kapal itu berupaya menguasai pancang kayu, tembakan meriam dan rakit-rakit api memporak-porandakan formasi armada de Kock. Banyak kapal de Kock yang kehilangan tiang layarnya dan menjadi sasaran empuk meriam benteng pasukan Palembang. Kekacauan akhirnya membuat armada tersebut kepayahan dan memutuskan untuk mundur. Jumlah korban tewas di pihak Belanda ada sekitar 101 orang, sedangkan di pihak Palembang tidak diketahui.

Karena tidak ingin menderita kerugian yang lebih besar lagi, maka de Kock meminta senjata kepada Sultan Mahmud Badaruddin II. Dia meminjamkan tidak akan menyerang benteng-benteng Palembang pada hari Jumat. Sebagai seorang Sultan Mahmud Badaruddin II sendiri harus meminjam untuk tidak menyerang pada hari Minggu. Hal ini dilakukan untuk menghormati hari suci agama masing-masing. Sang Sultan sendiri pun mengiyakan tanpa curiga karena dia juga ingin memberi waktu istirahat bagi pasukannya yang sedang istirahat dan saat itu sedang bulan Ramadhan.

Tapi perjanjian itu hanya bertahan beberapa hari, karena meskipun pada hari Jumat tidak terjadi kontak senjata, benteng pertahanan pasukan Belanda di Pulau Kembaro dan Plaju pada saat subuh. Perang jarak dekat terjadi, senapan-senapan Belanda melawan tombak dan sangkur pasukan Palembang. Karena jatuhnya, maka pertahanan di Pulau Kembaro dan Plaju.

Armada de Kock pun perahu ke pusat kota Palembang dan menghancurkan benteng Kuto Besak. Namun tembok setebal 2 meter dan barisan meriam yang kokoh membuat armada yang sudah porak-poranda itu membuat frustasi. Akhirnya de Kock mengeluarkan siasat partikel lainnya. Dia menunjukkan Sultan Najamuddin IV, salah satu kerabat Sultan Mahmud Badaruddin II yang diangkat menjadi sultan secara sepihak oleh Belanda di salah satu kapal perangnya.

Dengan upaya untuk menghindari pertumbahan darah yang lebih, Sang Sultan kemudian memutuskan untuk menghentikan serangannya karena tidak ingin membunuh kerabatnya sendiri hanya demi kepuasan untuk mengalahkan de Kock. Akhirnya, benteng Kuto Besak jatuh dan Sultan Mahmud Badaruddin II beserta panglima-panglima perangnya ditangkap oleh Belanda.

Maka berakhirlah pertempuran ketiga dan keempat antara Kesultanan Palembang melawan Pemerintah Kolonial. Gelar sultan akhirnya diserahkan pada Najamuddin IV dari Pangeran Ratu pada 29 Juni 1821. Badaruddin II dan keluarganya akhirnya diasingkan oleh Belanda ke Ternate pada 3 Juli 1821. Sultan Mahmud Badaruddin ll lalu meninggal di Ternate pada 26 September 1852.

sebagian keluarga sultan yang tidak merekam diri ke marga sembilan sambil melanjutkan perlawanan atas Belanda walaupun tidak sehebat Sultan Mahmud Badaruddin ll. Kesultanan Palembang Darussalam vakum sejak itu, karena sultan selanjutnya selanjutnya, Sultan Suhunan Husin Dhiauddin Bin Sultan Muhammad Bahauddin dibuang Kolonial Belanda Ke Betawi, Serta selanjutnya selanjutnya , Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom Bin Sultan Susuhunan Husin Dhiauddin ditangkap dan di Buang oleh Kolonial Belanda ke Banda, Kemudian dibuang lagi ke Manado, sampai sekarang Makam Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom belum ditemukan. 

Karena banyaknya perlawanan para sultan selanjutnya kepada Belanda, maka kesultanan Palembang pada tanggal 7 Oktober 1823 dibekukan oleh Belanda.

*) Penulis adalah Pemerhati Sejarah dari Sutanadil Institute

Bogor, 10 Januari 2022

Sumber :

ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), 2. Dr. Farida. Perang Palembang dan Benteng Benteng Pertahanannya, 3. Laporan Politik Tahun 1837: Penerbitan Naskah Sumbar Sejarah ARNAS RI No.4, Jakarta, 1971, AN, 4. Bataviaasche Courant 1918 – 1921. 5. The Asiataic Journal dan register bulanan untuk British India, volume 10, September 1820. 5. Woelders,MO, Het Sultanaat Palembang 1811-1825, Leiden: VKI Publ. No.72, 1975, 6. Rizky Ariyanto, PERANAN SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DALAM PERANG PALEMBANG 1819-1821, https://journal.upy.ac.id/index.php/karmawibangga, 7. https://id.wikipedia .org/wiki/Kesultanan_Palembang




 . 

No comments