Breaking News

Sains di Tengah Wabah Korona


Nirwan Arsuka, sastrawan, eseis, dan penggerak literasi. Sejumlah karyanya dimuat  International Journal of Asian Studies dan Inter-Asia Cultural Studies Journal.

Tak terhindarkan: agama yang yakin sebagai pengetahuan yang diturunkan langsung oleh Tuhan pantas mengangkat diri jadi pengetahuan paling luhur, agung, lengkap dan sempurna. Kaum agamawan, dengan niat mulia, kerap menilai pengetahuan rasional yang sekuler itu sebagai pengetahuan yang rendah, kasar, tak lengkap, dan berbahaya. Mereka yang mengamalkannya harus dikoreksi dan diselamatkan jiwanya. Keluhan Galileo Galilei di ruang tahanannya dan rintihan Giordano Bruno di api unggunnya, tentu masih bisa kita dengar di abad ini.
Sejak akhir abad ke-20 hingga hari ini, masih bisa kita dijumpai literatur yang menyerukan islamisasi pengetahuan. Penulisnya antara lain adalah Naquib Alattas, Ismail Raja Al-Faruqi atau Muhammad Mumtaz Ali. Mereka ini masih menganggap sains itu jahiliyah bahkan kafir dan karena itu harus diislamkan agar benar-benar jadi pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh alam.
Cendekiawan Indonesia seperti Mochtar Lubis, Soedjatmoko hingga bahkan YB Mangunwijaya juga, sampai batas tertentu, mengingatkan agar pengetahuan ilmiah yang tumbuh di Barat itu harus dihadapi dengan hati-hati karena akan membawa dampak pada kebudayaan. Di negeri lain, ada ideolog yang bahkan menganggap pengetahuan ilmiah itu berwatak imperialis sebagaimana peradaban Barat yang melahirkannya.
Pembacaan dekat
Ledakan pandemi korona adalah rapid test yang sangat bagus untuk menguji klaim superioritas berbagai jenis pengetahuan. Hasil test itu segera menunjukkan bahwa agama yang meletakkan diri paling superior itu ternyata adalah jenis pengetahuan yang paling banyak diam menghadapi korona. Barangkali sumbangan terbesarnya itu justeru adalah dengan tidak berbuat apa-apa itu. Dengan bersikap patuh pada anjuran sains, agama telah sangat membantu memutus rantai penularan wabah.
Sastra dan filsafat menunjukkan sikap yang lebih aktif menghadapi wabah. Melukiskan dan memberi nama pada obyek adalah tindakan awal dalam pengetahuan. Slavoc Zizek , misalnya, memberi rincian sumber wabah itu : a sub-layer of life, the undead, stupidly repetitive, pre-sexual. Arundhati Roy memberi deskripsi yang sedikit lebih dinamis pada virus itu: unseeable, undead, unliving blobs dotted with suction pads waiting to fasten themselves on to our lungs.
Sains memang yang paling awal dan paling gigih membaca Covid-19. Ketika korban di Indonesia belum berontokan, sains sudah berhasil mengurutkan genom virus tersebut, dan memberi nama yang bagus: Sars-COV-2. Nama yang merupakan singkatan dari koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2, menjelaskan wujud dan tabiat virus ini sekaligus asal-usulnya yang adalah galur baru dari keluarga virus bermahkota yang sudah dikenal sebelumnya. Nama ini adalah indeks yang baik karena terang menunjukkan lokus virus ini dalam tatanan hal ihwal
Dari praktek membaca pandemi ini, dapat dikatakan bahwa hanya sains yang mengamalkan close reading (pembacaan dekat), dan menelisik bukan hanya genom individual. Sastra, seperti halnya sejarah dan filsafat, hanya sanggup melakukan distant reading (pembacaan jauh) yakni mengaji dan meminjam hasil bacaan sains , atau jadi pengamat dan pencatat dari satu jarak.
Sains bukan saja membaca dan menyumbang pemahaman baru tentang SARS-CoV-2; sains juga “memanfaatkan” SARS-CoV-2 untuk mengoreksi dan mengembangkan diri, agar bisa sungguh-sungguh membaca pandemi ini dengan jitu. Pembacaan sains tidak mudah bukan saja karena teks bermahkota yang dihadapi itu tak bisa dibingkai dan dibekukan. Virus itu bermutasi dalam penyebarannya di antara manusia dan kala melintasi wilayah. Tapi juga karena perangkat baca yang dimiliki masih harus terus dipercanggih.
Berbagai cabang ilmu bergulat membaca SARS-CoV-2, antara lain virologi, pulmonologi, immunologi, epidemiologi, vaksinologi, genetika molekuler, dan kecerdasan buatan. Cabang-cabang ilmu ini punya sejarah, pendekatan, disiplin, dan metodologinya sendiri, yang mungkin membuahkan hasil bacaan yang berbeda dan bisa memicu debat. Perdebatan paling seru dalam membaca dan merespon pandemi ini terlihat di ranah epidemiologi yang memang langsung berhubungan dengan kehidupan manusia sejagad.
Dua Mazhab
Ketika WHO mengumumkan bahwa Sars-COV-2 itu adalah pandemi, korban sudah banyak jatuh dan wabah menyebar seperti api besar melangkahi batas-batas negara. Bill Gates menyebutnya "Once-in-a-Century Pandemic." Flu Spanyol di awal abad 20 menelan korban sekitar 50 juta jiwa; Sars-COV-2 diduga lebih ganas lagi dan akan menelan korban yang mungkin jauh lebih besar. Pengumuman WHO memantik reaksi para epidemiolog dan mengobarkan perselisihan yang oleh filosof kedokteran Jonathan Fuller dipetakan sebagai debat antara mazhab "model" melawan mazhab "bukti." Di Amerika, mazhab "model" diwakili oleh epidemiolog kesehatan publik dari Harvard, Marc Lipsitch, dan mazhab "bukti" diwakili oleh epidemiolog klinis John Ioannidis dari Stanford.
Hipokrates, Bapak Kedokteran Yunani Kuno, sudah mengajarkan asas penanganan penyakit luar biasa. Extremis malis extrema remedia. Berdasarkan sekian data yang diakui belum memadai, mazhab "model" menyusun sejumlah model matematis yang kemudian diajukan sebagai dasar untuk membuat keputusan penanggulangan wabah. Pendekatan dengan model matematis memang suatu yang biasa dalam dunia pengetahuan. Berdasar dugaan bahwa Sars-COV-2 itu adalah virus lebih ganas, maka saran penanggulangan wabahnya pun berskala luar biasa.
Para epidemiolog di mazhab "bukti" tentu tak keberatan dengan ajaran Hippokrates, tapi mereka mendebat sengit berbagai usulan yang berdasarkan model-model matematis itu. Buat kubu ini, pendekatan model itu bukan saja tak memadai, tapi bisa berbahaya, karena banyak kajian yang menunjukkan bahwa pendekatan model ini mengandung berbagai bias. Pada 2005, John Ioannidis menerbitkan paper berpengaruh yang tercatat paling banyak diunduh dari pustaka akses-terbuka Public Library of Sciences. Judulnya, "Why Most Published Research Findings Are False."
Perdebatan dua mazhab epidemiolog itu bisa juga tampak sebagai debat antara kaum pragmatis dan kaum idealis. Bagi kaum pragmatis, data memang tak memadai, namun tindakan harus segera diambil untuk mencegah lebih banyak korban. Kaum idealis setuju intervensi, tapi dasar tindakan itu harus memenuhi syarat ilmiah yang ketat. Sains tanpa pembuktian yang kokoh, tentu saja bukan sains lagi. Posisi kaum idealis ini jadi kian penting ketika ditemukan bahwa wabah ternyata menghantam lebih keras kalangan miskin dan kelompok marjinal tertentu, sehingga model yang tak peka kelompok rentan ini harus dirombak.
Bias Niat Mulia
Jika diperiksa lebih jauh, perdebatan antara para epidemiolog itu sebenarnya bukanlah benturan antara paradigma atau antar mazhab. Perdebatan itu adalah dinamik penerapan prinsip metode ilmiah yang ketat. Ia berakar pada kesadaran akan keterbatasan manusia, ketaksempurnaan pengetahuan, dan bahaya dari niat mulia. Terlalu banyak bukti bahwa niat mulia tanpa pengetahuan yang teruji adalah jalan mulus bagi bencana. Ditambah kekuasaan yang besar tak terkendali, ramuan ini akan benar-benar ampuh mengundang malapetaka, bahkan jika hanya satu saja informasi yang keliru.
Sars-COV-2 memang belum hilang, vaksinnya pun belum ditemukan, Tapi berbagai disiplin dan cabang ilmu sudah terus mengoreksi diri dan saling memperkaya. Model-model direvisi mengikuti temuan baru dan nilai moral, membantu para pembuat kebijakan menawar berbagai kompleksitas dan dilema antara nyawa manusia dan ekonomi bangsa. Kerjasama antar ilmuwan membuat hasil bacaan yang semula berbeda dapat diuji bersama untuk kemudian diramu dengan totalitas pembuktian. Metasains ditegakkan. Asal diberi waktu yang memadai, sains optimis akan dapat menemukan obat yang diperlukan.
Bagi masyarakat awam, perdebatan para saintis bisa tampak memusingkan. Mirip mereka yang tak paham bola, pergulatan dua kesebelasan di lapangan juga mungkin terasa membingungkan, bahkan tolol. Dua abad sebelum Giordano Bruno, Raja Edward II di Inggeris pernah mengeluarkan dekrit yang melarang sepak bola, menganggapnya permainan kacau yang kampungan. Sains dan sepakbola memang punya masa silam yang mirip yakni dipandang rendah oleh kaum yang berkedudukan mulia.
Eduardo Galeano, dalam Soccor in Shadow and Sun, antara lain menulis: Cemoohan dari banyak cendekiawan konservatif berakar dari anggapan mereka bahwa pemujaan sepakbola adalah agama yang cocok buat kaum awam. Dirasuki oleh sepak bola, rakyat jelata itu berpikir dengan dengkul kaki mereka, yang merupakan satu-satunya cara mereka untuk bernalar... Sebaliknya, banyak intelektual progresif merendahkan sepak bola karena mengebiri massa dan memandulkan semangat revolusioner mereka.... dihipnotis oleh bola, kesadaran pekerja menjadi mandeg dan mereka membiarkan diri dituntun seperti domba oleh musuh-musuh kelas mereka.
Apapun yang dilontarkan oleh para pencemooh sepak bola, para ideolog yang sangat mencintai kemanusiaan namun tak kuat bergaul dengan rakyat jelata, semua itu tak mengubah para penghidmat bola seperti Galeano, atau Paul Hoyningen-Huene. Buat mereka sepak bola adalah pentas bagi drama kehidupan yang paling intens, arena bagi lahirnya berbagai macam keajaiban yang tak terlupakan yang membuat hidup menjadi sangat berharga.
Pergulatan sains memang tak sesimpel pertandingan bola. Emosi yang dibangkitkannya mungkin juga tak seintens sepak bola. Tapi sains juga bisa seperti sepak bola, yakni menjadi seni yang, meminjam frasa Galeano, mengubah keterbatasan menjadi virtue. Kerjasama para ilmuwan memang tak menghasilkan orgasme yang meledakkan tribun berupa gol indah yang menggetarkan gawang. Kerjasama mereka telah melontarkan manusia terbang ke bulan, merentang usia manusia dua kali lebih panjang, dan mengangkat peradaban dunia ke tingkat yang lebih baik.
Permainan bersama
Jika sains sanggup ambil manfaat dari corona, agama juga bisa. Kalau agama tak berubah setelah pandemi, maka tuduhan yang pernah diajukan Martin Heidegger untuk sains, yakni “tidak berfikir” mungkin cocok dilimpahkan ke agama. Pelajaran yang bisa langsung disebar adalah bahwa agama dapat memberikan sumbangan besar, justeru jika ia bungkam dan tak ngotot menyumbang. Etika publik dan transaksi argumen yang demokratis jadi kian perlu dijunjung. Khazanah religius memang kekayaan privat paling berharga buat para penganutnya, yang mungkin ditawarkan, tanpa paksaan dan pengistimewaan, untuk memperkaya khazanah publik.
Pilihan yang lebih asyik, yang juga berlaku untuk sastra dan filsafat tentu saja adalah memasuki tatanan baru (new normal) dengan menjadi penonton yang literate, yang paham aturan main sains dan mengikuti perjuangan ilmu yang terbatas dan tak sempurna itu untuk memahami dan menjinakkan wabah besar yang sama sekali tak punya rasa hormat pada kedaulatan wilayah, keagungan ibadan dan segala jenis konstruksi sosial manusia.
Pemahaman akan aturan main sains akan kian membentangkan jalan selebrasi keindahan spirit dan nalar kritis manusia dimana semua pihak, bukan hanya ilmuwan, filsuf dan penyair, bisa ambil bagian. Itulah permainan besar yang menautkan kesadaran sains, olahraga dan puisi, yakni kesadaran akan keterbatasan yang harus diolah untuk melampaui keterbatasan. Permainan bersama itu bolak balik menghamparkan fakta bahwa hidup dan pengetahuan, dibanding maut dan ketidaktahuan, memang jauh lebih menakjubkan, lebih tak terbatas, dan karena itu perlu terus dirayakan.
Selamanya.

Sumber: https://www.facebook.com/arsuka01/posts/675831352974114

No comments