Breaking News

Merawat Sanad Menjaga Nasab

Hamdan Suhaemi, santri pondok geribik yang kini Ketua PW Rijalul Ansor Banten. 

Pesantren, bagi saya adalah tempat segala suku bangsa bertemu, dengan satu tujuan ingin bisa ngaji ( faham agama ). Belajar agama yang tepat dan benar memang di pondok pesantren, disamping ada penyampaian ilmu agama oleh kiai atau ustadz (santri senior) di pesantren pula diajarkan akhlaq, tatakrama, sopan santu, gotong royong dan hidup hemat.
Lingkungan pondok pesantren, ada kiai, ada santri, ada majlis dan ada tempat tinggal santri yaitu pondok. Kehidupannya adalah ngaji (belajar ilmu agama) dari bangun tidur hingga tidur lagi, isinya kegiatan ngaji.
Suasana, ada santri yang tengah ngaji, ada yang menghafal kitab nadhaman, ada yang masak, ada yang tengah wirid. Bahkan terkadang ada santri seringnya tidur. Subuh ngaji tafsir, agak pagian ngaji tarkiban (ilmu nahwu), pada siangnya ngaji sesuai jadwal rutin, sesudah ashar pun ada pula yang tengah bandongan ngaji kitab tertentu, selepas magrib berkumpul secara berklompok ngaji al-Quran hingga Isya tiba dilanjut ngaji secara berkelas dan berklomok sesuai tingkatannya.
Ngaji kitab itu ya memaknai tulisan-tulisan Arab yang berisi ilmu-ilmu agama Islam dengan makna jawa, istilahnya nyoret atau nyaret. Mungkin yang dimaksud adalah memaknai dan mencatat uraian atau penjelasan kiai, maka ini disebut taqriran atau bisa disebut surahan. Terutama di kitab Alfiyah Ibnu Malik, kitab Sullamu al-Munauroq, Risalah al-Syamsiah dan Fathul Muin. Ngaji begini mengarah agar detil memahami teks-teks tulisan dari para ulama, para imam mushonnif kitab kuning dari latar belakang madzhab dan firqoh.
Proses ngaji kitab kuning itulah yang kemudian dikenal sebagai proses transfer ilmu agama dan ajaran agama Islam dari guru (kiai) ke murid (santri), dan itu berkesambungan (sanadiyah). Sebab belajar ilmu tanpa guru itu patut diragukan, bahkan harus ditinggalkan.
Risalah Islam kemudian didakwahkan oleh para sahabat Nabi, dan para sahabat menyampaikan kepada tabiin, kemudian para tabiin ini menyampaikan agama ke para tabi' tabiin, higga pada masa dikenalnya madzhab dan firqoh. Ulama yang ada di madzhab tertentu juga mengajarkan agama dan ilmu agama hingga datang masa yang dikenal era ulama mutaakhirin (golongan ulama yang hidup di abad 18 M dan abad 19 M).
Pada abad 20, ulama pun meneruskan tradisi pengajaran agama, ilmu dan adab dari ulama yang hidup abad 19, hingga ulama yang datang dari hijaz (kini Arab Saudi) dan Mesir saat awal abad 20 tersebut kembali ke daerah masing-masing di seluruh nusantara. Hingga mendirikan pesantren sebagai wadah pembelajaran agama dengan titik tekan sistem sanad, artinya sikap kosistensi melanjutkan dari gurunya yang hidup sebelumnya.
Rerata mendalami ilmu agama itu mengkaji kitab-kitab yang mu'tabar, dan kitab-kitab tersebut pula dikaji oleh gurunya dari guru tersebut. Menjaga keajegan ilmu agama, menjaga keotentikan. Begitupun dalam hal ibadah, santri mengikuti pertingkah kiai.
Nasab (keturunan), terkadang pula jadi alasan determinasi yang kuat. Terutama dalam menjaga keaslian sesuatu, baik ucapan, tulisan hingga gaya hidup yang wara' dan zuhud. Santri adalah subjek dari estapeta pengajaran ilmu agama dari seorang kiai hingga diteruskan ke generasi berikutnya.
Pondok, menyajikan suasana sederhana, natural, saling canda, ceria, dan damai. Kekurangan yang tampak namun menyimpan kekayaan, terutama menyimpan kenangan indah dan manis.
13-7-2020

Sumber: https://www.facebook.com/hamdan.suhaemi/posts/326182885058078

No comments