Breaking News

Memerangi Racun Demokrasi, Apa Saja?

Mendagri Tjahjo Kumolo. [via okezone]

Mendagri RI Tjahjo Kumolo mengajak seluruh elemen masyarakat bersama-sama memerangi racun demokrasi, seperti politik uang, ujaran kebencian dan politik suku, agama, ras dan antaragolongan (SARA) selama penyelenggaraan Pilpres 2019.

"Mari kita lawan racun demokrasi, yakni politik uang, kampanye ujaran kebencian dan kampanye SARA," kata Tjahjo saat hadir dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Persiapan Penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 di kawasan Ancol, Jakarta, Sabtu, 17 November 2018.
Tjahjo menjelaskan, sukses tidaknya penyelenggaraan Pilpres dan Pileg (Pemilu serentak)  2019 dilihat dari tiga indikator. Salah satunya tingkat partisipasi masyarakat meningkat. "Untuk meningkatkan partisipasi kita harus lawan yang namanya racun demokrasi," jelasnya.
Karena itu,  peran masyarakat dalam mendorong calon anggota legislatif dan masing-masing tim sukses di Pilpres 2019 penting agar kampanye diisi dengan adu gagasan ketimbang narasi-narasi kampanye yang berbau ujaran kebencian dan SARA. 
Tjahjo juga yakin aparat kepolisian mampu memberantas kampanye dengan ujaran kebencian terutama melalui media sosial.
"Polisi, saya kira memiliki kelengkapan untuk menghadapi itu meskipun dengan jumlah penduduk 263 juta, ada 300 juta ponsel yang beredar dengan 400 juta 'sim card' yang beredar," tandas Mendagri RI Tjahjo Kumolo.

Sayang, Tjahjo tak tak menjelaskan apakah diksi “sontoloyo” dan “genderuwo” yang dilontarkan Joko Widodo beberapa waktu lalu termasuk racun demokrasi atau tidak.

No comments