TERBARU

Ijâzah Silsilah Tarekat Alawiyah Syaikh Salim b. Muhammad Garut

Ahmad Ginanjar Sya'ban, santri kelahiran Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat, yang kini mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Banyak mengurai naskah dan kitab lama karya ulama Nusantara.

Peralihan abad XIX ke XX bisa dikatakan sebagai masa keemasan sejarah intelektual ulama Nusantara di Timur Tengah. Pada kurun masa tersebut, terdapat puluhan ulama Nusantara yang berkarir di kota suci Makkah sebagai pengajar, imam dan guru besar di Masjidil Haram dan institusi-institusi pendidikan lainnya.
Babakan masa keemasan ini tercatat dalam pelbagai sumber yang sezaman (mashâdir mu’âshirah), baik sumber-sumber Eropa, Arab, atau pun pribumi-Nusantara itu sendiri. Di antara sumber tersebut adalah buku Snouck Hurgronje yang berjudul “Makka” (1888), catatan anonymous bertajuk “De Djawakolonie en de Mystieke Broederschappen in Mekka” (1915), atau buku katalogus ‘Alî Hilmî al-Dâghastânî yang berjudul “Fihrist al-Kutub al-Turkiyyah wa al-Fârisiyyah wa al-Jâwiyyah al-Mahfûzhah bi al-Kutubkhânah al-Khidyawiyyah al-Mishriyyah” (1889), juga buku katalogus Ilyâs b. Mûsâ Sirkîs yang berjudul “Mu’jam al-Mathbû’ât” (1927). Adapun sumber pribumi-Nusantara yang sezaman dengan masa itu adalah catatan perjalanan haji Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah V pada tahun 1924, atau rekaman perjalanan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) pada tahun 1927.
Banyak pula di antara ulama Nusantara di Makkah itu yang melahirkan sejumlah karya intelektual dan dicetak di beberapa pusat percetakan di Timur Tengah, seperti Makkah, Kairo, Istanbul, Beirut dan lain-lain. Karya-karya tersebut meliputi pelbagai bidang ilmu-ilmu keislaman yang ditulis dalam bahasa Arab, atau bahasa Melayu, Jawa, Sunda dan Aceh dalam aksara Arab.
Naskah kuno tulis tangan (manuskrip) berikut ini adalah salah satu saksi dan data sejarah yang berkaitan dengan masa keemasan ulama Nusantara di Makkah tersebut. Manuskrip ini berisi kumpulan ijâzah (kredensi intelektual) dan sanad-silsilah (genealogi keilmuan) Syaikh Salim Garut (Sâlim b. Muhammad Qârût al-Makkî) dari beberapa gurunya dan dalam pelbagai bidang keilmuan. Bahasa yang digunakan sebagai media tulis dalam manuskrip adalah Arab, Sunda dan Jawa.
Jumlah keseluruhan halaman manuskrip adalah 10 (sepuluh) halaman. Halaman 1 sampai 5 berisi sanad dan ijazah ilmu Qira’at al-Qur’an yang diterima oleh Syaikh Salim Garut dari gurunya yang bernama Syaikh Ma’mun Banten (Ma’mûn b. Rafî’ al-Dîn al-Bantanî al-Hasanî). Sanad dan ijazah ini ditulis di Makkah pada tahun 1332 Hijri (1913 Masehi) dalam bahasa Arab.
Adapun 4 halaman berikutnya (halaman 5 sampai 9) berisi sanad dan ijazah kumpulan shalawat, wirid dan do’a yang diterima oleh Syaikh Salim Garut dari gurunya yang bernama Syaikh Syadzili b. Wasi (Syâdzilî b. Wâsi’ al-Bantanî al-Hasanî) dan Syaikh Ahmad Djaha Anyer Banten (Ahmad Jahâ al-Bantanî). Sanad dan ijazah ini ditulis di Makkah pada hari Kamis 24 Dzulhijjah 1327 Hijri (bertepatan dengan 7 Januari 1910) dalam bahasa Arab, Sunda dan Jawa.
Bagian berikutnya, yaitu pada halaman 9 sampai 10, berisi ijazah dan silsilah Tarekat Alawiyah yang diterima oleh Syaikh Salim Garut dari gurunya yang bernama Syaikh Tubagus Abbas b. Wasi Banten (Tûbagûs Ahmad ‘Abbâs b. al-Sayyid Muhammad Wâsi’ al-Bantanî). Silsilah dan ijazah tersebut tertulis di Makkah pada tanggal 4 Ramadhan 1334 Hijri (bertepatan dengan 6 Juli 1916) dalam bahasa Arab.
Saya sendiri mendapatkan berkas gambar manuskrip ini dari sahabat saya Ustadz Muhammad Abid Muafan. Beliau sendiri mendapatkannya dari al-Mukarram KH. Abdul Qadir b. Ahmad Eumed Cimasuk, Garut.
* * * * *
Bagi saya sendiri, keberadaan manuskrip ini memberikan informasi yang sangat berharga terkait jaringan intelektual ulama Sunda di Makkah. Dalam sanad di atas, Syaikh Salim Garut menyebutkan beberapa nama ulama Nusantara yang mengajar di Makkah pada peralihan abad 19 ke 20 M. Di antara para ulama itu adalah Syaikh Muhammad Garut yang tak lain adalah ayahnya sendiri, juga ulama-ulama lainnya yang diidentifikasi berasal dari Banten, yaitu Syaikh Ma’mun b. Rafi’uddin Banten, Syaikh Ahmad Djaha Banten, Syaikh Arsyad b. Alwan Banten, Syaikh Syadzili b. Wasi Banten dan Syaikh Abbas b. Wasi Banten.

Di sini, perlu kiranya sedikit menyorot sosok Syaikh Muhammad Garut, orang tua Syaikh Salim Garut. Michael F. Laffan dalam “The New Turn to Mecca”, mengutip bagian dari catatan perjalanan Snouck Hurgronje ke beberapa pesantren di Priangan sepanjang 1889-1891 (LOr. 7931: 26), menyebut Syaikh Muhammad Garut sebagai putra dari Kiyai Hasan Basori Kiarakoneng (Laffan menulisnya dengan “Kiara Kareng”), Suci, Garut dari istrinya yang berasal dari Jawa di Makkah. Kiyai Hasan Basori sendiri adalah murid dari Kiyai Mulabaruk Garut dan guru dari R.H. Hasan Mustapa.
Muhammad Garut pada mulanya belajar dasar-dasar ilmu keislaman dari ayahnya di Kiarakoneng, juga dari pamannya Kiyai Muhammad Razi Sukamanah sekaligus dari kakeknya, Kiyai Abdullah Salim Cibangbang. Muhammad Garut juga sempat belajar kepada Kiyai Bunter di Tanjungsari Sumedang, lalu meneruskan ke arah timur, yaitu ke pesantren Sidoresmo di Surabaya di bawah asuhan Kiyai Ubaidah, kemudian menyeberang ke Bangkalan di pulau Madura.
Ketika berusia dua puluh tahun, Muhammad Garut pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di kota suci itu. Selama kurang lebih tujuh tahun lamanya, ia belajar di bawah bimbingan Kiyai Zahid Solo. Setelah itu, ia pun belajar kepada Syaikh Muhammad Shâlih al-Zawâwî dan Syaikh Muhammad Hasbullâh al-Makkî, untuk kemudian menjadi murid terdekat dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Syaikh Muhammad Garut sempat pulang ke tanah asalnya dan membina sebuah pesantren di kampung Balong, Cibunut, Garut. Di usia tuanya, Syaikh Muhammad Garut kemudian kembali pergi ke Makkah dan menetap di kota suci itu sambil mengajar.
Sebelumnya, Syaikh Muhammad Garut pernah dijumpai oleh Snouck saat ia berada di Makkah pada tahun 1885. Jejak tentang Syaikh Muhammad Garut terekam dalam buku Snouck yang berjudul “Mekka” (dipublikasikan pada tahun 1888). Snouck mendeskripsikan sosok Muhammad Garut sebagai ulama besar Sunda yang mengajar di Makkah dengan reputasi keilmuan yang tinggi. Syaikh Muhammad Garut juga terbilang sebagai penyambung koneksi keilmuan antara Makkah dengan Sunda (Priangan) yang penting. Ia mengajar di Masjidil Haram dan membuka kelas keilmuan Islam di rumahnya yang terletak di Jabal (gunung) Abû Qubays, Makkah. Oleh karena itu pula, bagi kalangan orang-orang Sunda di Makkah, Syaikh Muhammad Garut lebih dikenal dengan julukan “Mama [Ajengan] Jabal”. Julukan lain untuk Syaikh Muhammad Garut adalah “Ajengan Balong” atau “Ajengan Cibunut” (merujuk pada pesantrennya di Balong, Cibunut, Garut).
Selain itu, Syaikh Muhammad Garut juga disebut sebagai salah satu murid dan suksesor Syaikh Ahmad Khatib Sambas, sang inisiator Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah. Dalam jaringan ini, Syaikh Muhammad Garut selevel dengan Syaikh Abdul Karim Banten, murid dan suksesor Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang paling masyhur. Syaikh Muhammad Garut memiliki seorang murid sekaligus suksesornya dalam tarekat ini, yaitu Kiyai Muhammad Shalih dari Sukabumi.
Syaikh Muhammad Garut memiliki beberapa anak. Di antara mereka adalah Syaikh Salim b. Muhammad Garut yang sedang kita bicarakan di muka, Syaikh Abdullah Manshur b. Muhammad Garut, Syaikh Ahmad b. Muhammad Garut, Syaikhah Khadijah bt. Muhammad Garut, dan yang paling terakhir adalah Syaikh Siraj b. Muhammad Garut (terkait sosok Syaikh Siraj Garut dan karyanya, dapat disimak pada tautan berikut: https://web.facebook.com/photo?fbid=10158378677109696&set=a.412107924695).
* * * * *
Kembali ke manuskrip Syaikh Salim Garut yang sekilas telah kita ulas di atas. Dari ketiga sanad, silsilah dan ijazah Syaikh Salim Garut di atas, yang paling menarik perhatian saya pribadi adalah silsilah dan ijazah Tarekat Alawiyah (dan Râtib al-Haddâd) yang didapatkan oleh Syaikh Salim Garut dari gurunya, yaitu Syaikh Abbas b. Wasi Banten. Ijazah dan silsilah Tarekat Alawiyah ini sekaligus menegaskan sejarah eksistensi dan perkembangan tarekat tersebut di kalangan ulama Nusantara di Makkah.

Tertulis dalam muqaddimah silsilah tersebut:
بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله الذي رفع لمن وقف ببابه قدرا. وأعلى لمن انقطع لعز جنابه ذكرا. والصلاة والسلام على سيدنا محمد رسول الله الذي نبع الماء النمير من بين بنائه وتفجرت ينابيع الحكمة من قلبه ولسانه وعلى آله وأصحابه الأمجاد والتابعين لهم بإحسان الى يوم التناد

Setelah itu, tertulis keterangan berikut ini:
أما بعد فأقول أنا الحاج توبݢوس أحمد عباس بن السيد محمد واسع بأني قد أجزت أخينا الفاضل محمد سالم بن محمد قاروة براتب الحداد كما قد أجازني الحاج أرشد بن علوان عن شيخه الشيخ السيد أبي بكر بن محمد شطا الذي لساداتنا آل باعلوي نفعنا الله بهم ولا حرمنا من أسرارهم وأنوارهم وبركاتهم آمين بشرط المعتد عند أهله.

(Ammâ ba’du. Maka aku berkata, Haji Tubagus Ahmad Abbas b. Sayyid Muhammad Wasi, bahwa aku telah mengijazahkan saudaraku, al-Fadhil Muhammad Salim b. Muhammad Garut atas Râtib al-Haddâd. Sebagaimana telah mengijazahkan kepadaku sebelumnya Haji Arsyad b. Alwan, dari gurunya Syaikh Sayyid Abû Bakar b. Muhammad Syathâ, yang mana beliau berasal dari keturunan Bâ-‘Alawî. Semoga Allah memberikan kita semua manfaat dengan mereka, tidak menghalangkan bagi kita akan rahasia, cahaya dan berkah mereka. Amin. Ijazah ini aku berikan dengan segala syarat yang berlaku bagi pemiliknya).
Selanjutnya, Syaikh Abbas b. Wasi Banten menuliskan silsilah Tarekat Alawiyah yang ia dapatkan dari gurunya, yaitu Sayyid Abû Bakar b. Muhammad Syathâ al-Dimyâthî al-Makkî, atau yang dikenal dengan Sayyid Bakrî (w. 1890), sang pengarang kitab “Hâsyiah I’ânah al-Thâlibîn ‘alâ Fath al-Mu’în” yang terkenal itu. Silsilah dari Sayyid Bakrî ini menyambung kepada gurunya, yaitu Sayyid Ahmad Zainî Dahlân (w. 1885), mufti madzhab Syafi’i di Makkah, di mana mata rantai silsilah berikutnya terus menyambung hingga Rasulullah SAW.
Silsilah Tarekat Alawiyah tersebut tertulis sebagai berikut:
وأقول قد أخذت طريق سادتنا آل باعلوي عن شيخنا السيد أبي بكر شطا وهو أخذ عن شيخه خاتم المحققين وبقية السلف الصالحين بتحقيقه أهل زمانه وأوانه مولانا السيد أحمد بن زيني دحلان متع الله الوجود بحياته ولا حرمنا بركاته وامدادته. وهو يرويها عن مشايخ كثيرين منهم السيد الشهير والقطب الكبير السيد عبد الرحمن بن علي السقاف. وهو أخذها عن والده الحبيب علي. وهو عن الحبيب حسن بن صالح البحر. عن الحبيب عمر بن سقاف وعن الحبيب حسن بن القطب سيدي الحبيب عبد الله الحداد. وهو عن والده سيدي عبد الله بن علوي الحداد. وهو عن السيد العارف بالله تعالى سيدي عمر بن عبد الرحمن العطاس والعارف بالله سيدي محمد بن علوي السقاف. وهو عن سيدي حسين بن أبي بكر بن سالم. وهو عن والده الشيخ الكبير أبي بكر بن سالم. وهو عن السيد العارف بالله تعالى عمر بن محمد باصبان. وهو عن الشيخ الكامل سيدي عبد الرحمن بن الشيخ بن الشيخ علي. وهو عن والده الشيخ علي. وهو عن والده الشيخ أبي بكر السكران وعمه سيدنا عمر المحضار. عن والدهما شيخ الشيوخ سيدي الشيخ عبد الرحمن السقاف. عن والده محمد مولى الدويلة. عن والده علي وعمه عبد الله بن علوي. عن والدهما علوي بن الأستاذ الأعظم الفقيه المقدم. وهو عن والده علي بن محمد . وهو عن والده محمد صاحب مرباط. وهو عن والده علي قسم. وهو عن والده علوي. وهو عن والده محمد. وهو عن والده علوي. وهو عن والده عيسى النقيب. وهو عن والده الإمام سيدنا علي العريض. وهو عن والده سيدنا جعفر الصادق. وهو عن والده الإمام سيدنا محمد الباقر. وهو عن والده الإمام سيدنا زين العابدين. وهو عن والده السبط سيدنا الحسين وعمه الإمام سيدنا الحسن. وهما عن أبيهما الإمام سيدنا علي المرتضى وأمهما سيدتنا فاطمة الزهراء وجدهما سيدنا محمد المصطفى رسول الله صلى الله عليه وسلم. وهو عن سيدنا جبريل عليه السلام. وهو عن الرب العزة تبارك وتعالى.

* * * * *
Tarekat Alawiyah terhitung sebagai salah satu tarekat yang besar di Nusantara. Perkembangan tarekat ini lebih dominan di kalangan para keturunan Arab-Yaman. diinisiasi oleh al-Imam Muhammad b. ‘Alî Bâ-‘Alawî (w. 653 H/1256 M). Tarekat ini mencapai puncak perkembangannya pada masa kepemimpinan al-Imam ‘Abdullâh b. ‘Alawî al-Haddâd (w. 1132 H/1720 M). Salah satu karya terpentingnya adalah Râtib al-Haddâd.

Dalam “Hadhramaut: A Religious Center for the Indian Ocean in the Late 19th and Early 20th Centuries” (1999), U. Freitag menyebutakan bahwa Tarekat Alawiyah menyebar luas di Nusantara bersamaan dengan datangnya para imigran Arab asal Hadhramaut (Yaman) ke Nusantara pada abad 19 dan 20 M.
Terkait sejarah perkembangan Tarekat Alawiyah di Nusantara, Umar Ibrahim mengulasnya dengan baik dalam karyanya yang berjudul “Thariqah Alawiyah: Napak Tilas dan Studi Kritis atas Sosok dan Pemikiran Allamah Sayyid Abdullah Alawi Al-Haddad Tokoh Sufi Abad 17” (2001).
Wallahu A’lam

Ciheulang, Kapit (Dzulqaedah) 1441 H/ Juni 2020

Sumber: https://www.facebook.com/ahmad.ginanjarsyaban/posts/10158384860094696

No comments